Selasa, 14 Januari 2014

My Second Short Story



“Akhirnya hari ini tiba jugaaa!” teriak Minzy tepat di telinga Krystal. Krystal langsung mendelik sebal sambil berusaha menutupi kedua telinganya agar tidak terkena eksternalitas negatif dari polusi suara yang ditimbulkan Minzy.

Melihat itu Minzy hanya cengengesan garing sambil pura-pura melihat ke arah lain. Menghindari tatapan maut Krystal kalau sudah marah.

“Krystal-ah, kau tau? Aku sangat menunggu hari ini,” kembali Minzy berceloteh riang, tapi kali ini dengan volume yang biasa ditangkap pendengaran manusia tanpa harus menyebabkan gangguan pendengaran.

“Tentu saja aku tau. Sudah berapa kali kau mengucapkannya, Minzy?” sahut Krystal geram.

“Hehehe..” kembali Minzy cengengesan garing mendengar tanggapan sebal Krystal.

 “Maaf, aku terlalu excited hingga tidak bisa mengontrol mulutku,” ujar Minzy sambil menepuk bibirnya pelan.

“Ya, aku tau bagaimana perasaanmu sekarang. Wajar kalau kau terlalu over active sekarang,” sindir Krystal sambil terkekeh pelan. Giliran Minzy yang cemberut mendengar perkataan Krystal barusan.

“Aku tidak senorak itu, kau tau?” ngambek Minzy. Langkahnya terhenti karena merajuk.

“Ah, sudahlah. Ayo buruan. Kita akan terlambat kalau kau terus begitu!” Krystal menarik lengan Minzy agar bergegas.

**

“Dia belum datang ya?” tanya Minzy sembarang sambil celingukan, kanan-kiri. Mencari sesosok cowok dengan perawakan tinggi dan lumayan secara fisik.

“Krystal-ah, dia belum datang,” jawab Minzy sendiri.

“Kau seperti orang frustasi, Minzy. Nanti dia juga akan datang, tidak mungkin dia bolos. Kita sedang final exam sekarang. Kau pikir dia sudah gila?” Krystal menenangkan Minzy.

Minzy hanya mengangguk pelan. Tidak bersemangat. Melihat itu Krystal menepuk-nepuk pelan punggung Minzy, menyemangati.

“Itu dia! Dia duduk di lobby!” seru Minzy excited. Untungnya kali ini tidak di telinga Krystal karena Krystal sedang berdiri agak jauh dari tempat Minzy berdiri.

Minzy terus memperhatikan sesosok yang sedang mengobrol itu. Memperhatikannya dengan lekat hingga siapa pun yang melihatnya pasti akan khawatir, takut mata Minzy mencuat keluar dari lobangnya.

“Ayo kita masuk. Mau sampai kapan kau memperhatikannya?” tegur Krystal.

“Kau masuk duluan. Aku akan memanggilnya,” Minzy berjalan ke arah sesosok itu.

“Gadis tangguh,” ujar Krystal pelan, lalu berjalan masuk ke dalam ruang ujian.

“Jiyong!” panggil Minzy.

Cowok bernama Jiyong yang dipanggil Minzy menoleh, “Sudah masuk,” ujar Minzy sambil menunjuk ke arah ruang ujian.

“Masuk aja duluan. Aku menyusul,” sahut Jiyong sambil tersenyum. Lalu, kembali membaca buku yang sedang dipegangnya.

“Baiklah kalau begitu. Padahal aku berharap bisa masuk ruang ujian bersama,” sahut Minzy pelan lebih kepada diri sendiri.

Minzy mengambil bangku paling belakang. Berhubung barisan depan dan tengah sudah penuh. Dia mengambil posisi paling pojok dekat jendela.

Ujian sudah dimulai dan Jiyong masih belum juga masuk. Minzy khawatir. Dia tidak mengerti jalan pikiran Jiyong.

‘Apa yang sedang dipikirkannya? Kenapa dia tidak langsung masuk kelas?’ tanya Minzy dalam hati. Pikirannya terpecah antara soal ujian yang sedang dipegangnya dengan Jiyong yang masih duduk di lobby.

Setelah ujian berlalu selama 15 menit, barulah pintu ruang ujian menjeblak terbuka dan semilir angin masuk ke dalam ruang ujian.

Minzy melihat sekilas, lalu kembali mencoba fokus untuk menjawab soal ujian.

Setidaknya aku tau kalau kau sudah masuk. Ayo semangat ngerjain soal ujiannya, Minzy-ah!’ teriak Minzy dalam hati, menyemangati diri sendiri.

Tak lama kemudian, bangku kosong di sebelah kanan Minzy bergeser. Minzy melirik dan ternyata Jiyonglah yang sudah duduk di sebelahnya. Minzy terperangah, tidak menyangka kalau Jiyong akan memilih duduk di sebelahnya. Padahal bangku yang kosong masih banyak dan tersebar di seantero ruang ujian.

Haaa? Dia..’ degup jantung Minzy mulai tidak beraturan. Senang, panik, dan kaget, bercampur menjadi satu.

Minzy bersorak dalam hati. ‘Yeess.. I think today is my day!

Setelah itu, Minzy mencoba kembali fokus untuk mengerjakan soal ujian.

Seusaha apa pun Minzy mencoba untuk fokus, tetap saja konsentrasinya terpecah. Siapa yang bisa berkonsentrasi kalau ‘pangeran’nya duduk di sebelahnya? Mustahil.

Tak lama kemudian, hal memalukan terjadi. Berhubung Minzy belum sarapan, tanpa bisa dikontrol perutnya mulai berkontraksi. Minzy panik.

‘TIDAK! Please perut, jangan bunyi. Malu!’ Minzy histeris dalam hati. Berusaha menyembunyikan suara perutnya yang mulai tidak terkontrol.

Muka Minzy merah padam, menahan malu. Tidak berani melirik Jiyong yang duduk di sebelahnya.

Kenapa harus di saat seperti ini?’ Minzy kesal dengan dirinya sendiri. Kesempatan langka untuk bisa duduk bersebelahan dengan Jiyong dan dia harus menahan malu sepanjang sisa waktu ujian.

Semesta seakan tidak rela melepaskan kutukannya, kontraksi perut Minzy terus berlangsung hingga detik-detik ujian berakhir.

Minzy pasrah dan hanya bisa berdoa agar Jiyong tidak mendengarnya. Dia berusaha menyembunyikan suara memalukan itu dengan membolak-balik soal dan lembar ujian, mengetuk-ngetuk sepatu ke lantai, berdeham, menahan napas, apa pun dia lakukan untuk menyembunyikan dan meredam suara perutnya.

Hingga akhirnya kontraksi perut Minzy benar-benar berhenti. Minzy menarik napas lega.

Akhirnya, aku bisa tenang juga,’ pikir Minzy kalem. Sebenarnya Minzy sudah selesai menjawab seluruh soal ujian, tapi dia belum mau bergerak dari bangkunya. Masih ingin menikmati kebersamaan singkat bersama Jiyong, tapi berhubung karena dia juga malu akhirnya dia bangkit dari bangkunya dan mengumpulkan lembar jawaban ujian.

Cukuplah untuk hari ini. Walau singkat dan penuh drama, setidaknya aku bisa duduk bersebelahan dengannya,’ pikir Minzy senang.

**

Rabu, 08 Januari 2014

They Came and Afterwards They Went



Hari ini luar biasa! Walau hujan gak berhenti turun dari pagi, tapi mereka datang membawa keceriaan di hidupku yang sedang kelam (efek UAS -__-). Siang ini, Nayla dan Zaki datang bersama Oma, Tulang, dan Nantulang Besar ke kosanku (Aurora Castle).

Walau rencana kunjungan mereka sudah lama digaungkan, tapi baru terlaksana hari ini.
“Menunggu Tulang Besar sampai di Jakarta,” ujar Nantulang.

Perjalanan dimulai (tentu saja) dari kosanku, lalu menuju salah satu rumah makan yang ada di Dramaga. Setelah selesai santap siang, kami kembali bergerak ke .. Guess what? Yap, ke kampusku tercinta. Institut Pertanian Bogor ~(^,^)~

Akhirnya, aku bisa juga memperlihatkan bagaimana rupa kampusku ini. Bangga bercampur haru haha

Kami memulai bedah kampus IPB dari gladiator (spot di mana logo IPB tegak berdiri), melihat GWW, lalu yaah begitu, muter-muter kampus sampai ke Alhur juga XD

Setelah itu, tentu mampir untuk membeli oleh-oleh dan berakhirlah perjalanan hari ini. Awalnya aku biasa saja, tapi saat melepas kepergian mereka, aku jadi teringat rumah :”(

Aku juga pengen pulang :”( Take me home!!!!!

Haaah, tanggal 18 itu lama yaa -.-“

Selasa, 07 Januari 2014

UAS di antara Auroraers XD



Jangan salahkan aku kalau sekarang ini aku nyelaw plus ngegabut di kosan! Hey, bukan aku yang buat jadwal ujian loh :p Kalau bisa minta juga aku gak pengen jadwal begini. Serem banget minggu kedua aku ketemu sama Ekoper dan Makro 1 -,-

Tapi ada hikmahnya juga sih, aku punya banyak kesempatan untuk belajar, sayangnya aku belum maksimal manfaatinnya -___-

Hey, siapa pun juga bakal ngelakuin apa yang aku lakuin. Nikmatin waktu kosong itu “sesuatu” banget loh :p

Yah, mungkin minggu ini giliran aku yang nyelaw, minggu depan kan giliran kalian. Ada waktunya kok. Semangat aja ya, guys XD

Pokoknya sih, goodluck aja buat UASnya. Do the best and Keep calm :D

Jumat, 03 Januari 2014

You!



             Hi, there :”)

         What are you thinking about now? I wanna know. I’m so curious about your mind. Cause, I can’t read anything through your expressions.

            By the way, you have a complicated relationship since 2nd Oct 2013? How could?

            You’ve been in a relationship with “H”? How could?

            You dared to ask me some personal questions? How could?

            I just don’t know how could you doing all unexpected things like that?

**

Rabu, 04 Desember 2013

[FIKSI]



                Seungri.

            Nama samaran yang tanpa kusadari telah kusandangkan padanya. Tidak akan ada yang tahu siapa makhluk di balik nama samaran itu. Hanya aku yang tahu. Ya, hanya aku.

            Sudah berapa lama kita tidak bertemu? 3 bulan? 5 bulan? Entahlah, aku tidak tahu lagi sudah berapa lama kita tidak bertemu.

            Yang terlintas di benakku selama ini hanyalah, apakah kau masih mengingatku? Apakah kau masih menganggapku bagian dari hidupmu? Apakah kau merindukanku?

            Hahaha.. 

            Pertanyaan itu terlalu mudah untuk dijawab. Karena tentu saja jawabannya tidak. Kau sudah punya dia. Dia yang lebih segalanya dariku. Untuk apa kau masih mengingatku jika kau sudah bahagia bersamanya?

**

            Aku merindukanmu. Aku ingin bertemu denganmu.

            Walau kau hanya menganggapku sesuatu yang lain, sesuatu yang cukup penting untuk hidupmu, tapi bukan itu yang kuinginkan. Karena posisiku hanya “cukup” penting, bukan penting!

            Aku ingin lebih.

Maaf jika aku terlalu serakah.

Kuharap kau bahagia di sana, my dear ~