Tampilkan postingan dengan label Layak Baca. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Layak Baca. Tampilkan semua postingan

Minggu, 06 April 2014

"Marahkah kau, wahai Hujan?"



Marahkah kau padaku wahai hujan? Mengapa tatapanmu menusukku begitu dalam? Adakah aku berbuat salah padamu?

Aku tidak tahu apa yang merasukimu hingga kau berubah sedrastis ini. Apakah karena tanah kering di kota lain itu? Begitu menyenangkannyakah dia hingga kau melupakanku?

Hujan. Sudah lama aku tak melihatmu. Haruskah kau berlaku seperti itu di hadapanku? Bahagiakah kau telah menyakiti si tanah kering kesepian ini?

Hujan. Haruskah aku kembali mengadu pada angin? Atau, haruskah aku mulai menyayangi angin? Apa memang itu yang kau inginkan?

Hujan. Aku tak sampai hati bila harus meninggalkanmu. Biarlah kau yang beranjak pergi dahulu. Mungkin suatu saat nanti aku akan melakukan hal yang sama denganmu. Tapi saat ini, aku belum hendak menguapkan seluruh perasaan bodoh ini. Jadi, tetaplah menjadi penopangku, bersabarlah.

Somewhere, 4 April 2014

Rabu, 02 April 2014

"Tanah Kering yang Kesepian"


Source: dedilinks.blogspot.com


Hujan sedang apa kau di sana? Sudahkah angin menyampaikan pesan cintaku untukmu? Ke mana saja kau? Aku sudah menunggumu berhari-hari di sini. Menanti kabar darimu yang tak kunjung datang. Lupakah kau padaku? Si tanah kering yang selalu membutuhkan asupan kasih sayang darimu?

Hujan. Ingatkah kau akan kebersamaan kita? Saat air dinginmu menyambangi pori-pori kulitku dan memenuhi lapisan-lapisan tubuhku. Bantu aku membuat para manusia itu senang. Tanpamu aku takkan pernah bisa menumbuhkan pepohonan.

Hujan. Kapan terakhir kali kita bercengkrama? Ingatkah kau? Karena aku sudah lupa. Rasanya sudah berabad-abad yang lalu kau menghampiri kediamanku. Ataukah kau sudah lupa jalan menuju si tanah kering yang kesepian ini?

Kudengar dari angin bahwa kau sedang sibuk membasahi tanah kering di kota lain. Benarkah itu? Apakah tanah kering itu juga sama kesepiannya denganku hingga kau berbaik hati terus menemaninya? Jujur saja, hatiku sakit saat mendengar pengakuan dari angin. Karena kukira, hanya akulah si tanah kering yang mampu melengkapi kesempurnaanmu. Karena kukira, hanya aku si tanah kering yang berarti di hidupmu.

"Wind Blows"


Source: kfk.kompas.com




Angin. Kali ini kau berhasil menyita pikiranku. Kau juga memenuhi seluruh benakku. Apakah kau hendak mencuri perhatianku dari hujan? Tegakah kau?

Angin. Berkatmu semuanya bahagia. Tanpamu semuanya menderita.

Aku tahu kau adalah sesuatu yang berhati lembut. Takkan tega kau membuat para pecintamu bersedih hati. Aku tau kau pasti akan selalu ada di sini. Membisikkan namanya lembut di telingaku. Menyampaikan pesan cintaku padanya. Membelai wajahku dan wajahnya lembut. Memberikan sedikit kedamaian saat mentari tak mengerti bahwa hati dan pikiran ini sudah cukup panas.

Angin. Bersediakah kau berada di sini sepanjang waktu? Menemaniku dalam kesendirian yang tak kunjung mereda.

Atau kau ingin tetap di sana, menari-nari bersama dedaunan hijau?

Angin. Aku hanya inginkanmu. Untuk saat ini, temani aku. Hujan sudah dua hari belum datang. Aku tersiksa dan takut.

Mungkinkah hujan sudah menemukan belahan jiwanya yang baru sehingga dia melupakan dan meninggalkanku sendirian? Tidak! Itu tidak mungkin.

Angin. Tolong aku. Sampaikan pesan rinduku padanya. Titipkan salam cintaku untuknya. Aku akan tetap menunggunya di sini. Mungkin aku dan dia bertemu di waktu yang salah. Tak apa. Aku akan menunggu hingga waktu yang tepat itu datang.

Angin. Bolehkah aku juga menitipkan rinduku padamu? Maaf karena aku tak menyadari kehadiranmu lebih cepat.

Minggu, 30 Maret 2014

"Biarkan"


Source: physics-and-world.blogspot.com


Biarkan angin berhembus lembut di sekitar pepohonan. Agar dedaunan hijaunya menari dengan indah. Mengalahkan keindahan sinar mentari yang menyengat.

Biarkan dedaunan itu menari mengikuti ritme angin. Agar kumandang Adzan yang mengalun terobati pilunya tatkala sudah jarang orang yang mendengar seruannya.

Biarkan sinar mentari menyengat kulitmu. Agar kau tetap mengingat kuasa Allah Tuhan Semesta Alam.

Dan biarkan sinar mentari menyengat bumi. Agar siklus air bergerak lebih cepat. Sehingga menghasilkan rintik-rintik hujan yang selalu kunanti kehadirannya di sini.

Minggu, 23 Maret 2014

"Hujan dan Romantis"




Source: www.jurnalhajiumroh.com

Tiba-tiba aku ingin menulis tentang hujan.

Aku tidak tahu sejak kapan mulai menyukai hujan serta apa alasannya. Aku hanya suka memandangi butiran-butiran air yang jatuh dari langit tanpa jeda, aku hanya suka menghirup aroma tanah basah yang menentramkan pikiran, dan aku hanya suka mendengar dentuman air yang menghantam apa pun yang menghalangi langkahnya hingga masuk terserap tanah.

“I always like walking in the rain, so no one can see me crying.”
-Charles Chaplin-

Source: danbomurah.blogspot.com


Selain itu, Allah SWT juga telah menerangkan kepada kita mengenai hujan melalui Al-Quran jauh sebelum sains mampu menjelaskannya.

“Allah, dialah yang mengirimkan angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang di kehendakinya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal: lalu kamu lihat hujan keluar dari celah-celahnya, maka apabila hujan itu turun mengenai hamba-hambanya yang di kehendakinya, tiba-tiba mereka menjadi gembira.” (QS. Ar-Rum : 48)

Bukankah hujan itu indah? Bukankah hujan itu memiliki kekuatan untuk menghapus jejak-jejak mereka yang telah berlalu dalam hidup? Bukankah hujan itu mampu menghadirkan kembali cuplikan-cuplikan kenangan yang masih membekas di ingatan?

Bagiku hujan memiliki peranan penting. Karena tanpa hujan, aku tidak akan pernah bertemu denganmu.