Minggu, 21 Desember 2014

Curhat Basi Session 2



Jam segini, bukannya tidur tapi malah blogging. Lantas harus salahkan siapa?
Kopi Good*** yang kuminum tadi siang atau aku yang hari ini bangun siang? Ah entahlah, bukan hal ini yang ingin kubahas kali ini. Melainkan orang-orang yang kuanggap sebagai keluarga baruku. Ya, I found people who’s deserve to be my new family ;)
Jika satu orang memang sedari awal aku sudah nyaman mengobrol dengannya hingga suka lupa waktu, nah satu lagi adalah orang yang awalnya kupikir akan tidak menyenangkan karena dia lebih dekat dengan teman sekamarku. But, I have notice that she’ll be my wonderful fair share friend today! Yeheettt!
Aku tahu sedari awal kalau dia memang “bijak”, namun kadang kala dia juga suka bersikap menyebalkan. Namun, tidak dua hari ini. Dia bersikap seperti awal perkenalan kami. Menyenangkan. Kuharap akan terus begini J
Mungkin terkesan lebay sih tulisanku ini, tapi sekali lagi aku berpikir tidak ada salahnya menulis ini. Hak aku untuk menulis apa pun di blogku. Selama tidak merugikan siapa pun.
I just wanna tell you that I made a new family here. Yes, MADE not MAKE. Aurora Castle, my homestay/kost or whatever you called it for 2 years. But, I just notice it!
I think they’re just friends, so I didn’t make deep interactions with them. I just busy with myself, all the time.
This dawn, we made a “high class” conversation. Life, boys, haters, and ourself. We were talking about everything until 3 AM!
And because of it, I have been notice that they’re truly friends who I can depend on with. Thanks for this dawn, sincerely J

Jumat, 19 Desember 2014

Curhatan Basi Ala Mala

Long time no see.
Bad mood!
Lagi stres banget. Mungkin agak alay sih nulis masalah di blog, tapi berhubung yang baca juga gak mungkin khalayak ramai (karena aku tahu blogku tidak famous sama sekali -___-) jadi gak apa-apa juga kali yaa. Hak aku kan yaa nulis di blog pribadi.
Masalahnya mungkin aku yang gak peka atau aku yang terlalu menganggap segalanya terlalu biasa hingga akhirnya tanpa sadar udah nyakitin hati orang lain. Surprise? Didiemin? Selow aja?
Apa maksudnya itu semua????
Kalau memang selow aja kenapa harus diungkit? Kalau memang gak kesal kenapa ngomongnya gak kayak kemaren-kemaren?
Terus aku harus gimana? Gak tau harus ngapain! Aku bukan cenayang yang bisa nebak isi hati ataupun pikiran orang lain.
Udah gede juga kan? MAHA-siswa, terus kenapa masih kekanakan sih? Kenapa masih lebih mendahulukan emosi daripada berpikir dan bicara baik-baik dulu?
Kalau memang ada yang gak disuka bisa bilang, kalau memang ada yang mengganjal bisa bicara. Simple kan?
Ah yasudahlah, terserah aja mau bersikap gimana.

Selasa, 16 September 2014

Tanah Kering Si Pujangga



Hujan tak pernah lagi menyapaku, si tanah kering yang kesepian.
Hanya angin yang kian sering berhembus hingga kerap menggugurkan dedaunan tiada henti.
Semakin ku merasa tertinggal jauh olehmu, wahai hujan.
Seperti inikah sakitnya menjadi seorang pemuja rahasia?

Sabtu, 13 September 2014

Naik Kelas



Belum beruntung ternyata, yah sudahlah. Mungkin giveaway selanjutnya aku akan berhasil. Berdoa saja. Walau sebenarnya aku sangat menginginkan foto itu.

Aku sudah berusaha mengukir kalimat dalam bahasa Inggris padahal yah kalian tahu sendirilah bagaimana kemampuanku dalam bahasa asing itu. Setidaknya aku bersikap jujur dengan tidak mengatakan hal yang berlebihan. Jadi, aku tidak begitu merasa sedih.

Aku bangga pada diriku karena telah memberikan “selamat” kepada mereka. Seperti yang telah aku jelaskan bahwa sebenarnya aku sangat menginginkan hadiah itu, jadi wajar saja misalnya aku marah dan kesal. Tapi aku mampu dengan berbesar hati menerima kekalahanku dan mengakui kemenangan mereka.

Tersenyum adalah langkah yang telah kuambil sesaat setelah kulihat hasilnya. Seperti itulah yang seharusnya terjadi. Karena kekalahan adalah kemenangan yang tertunda, bukan?

Aku rasa aku naik kelas “kehidupan” hari ini ><4

Jumat, 12 September 2014

Langkah Kecil untuk Mimpi yang Besar

Hari ini aku mendapat pencerahan mengenai social media. Pencerahan yang seperti apa?
       
Baik, aku akan mulai bercerita.
Pagi ini diawali dengan kuliah Ekonomi Perikanan di Ruang Audit PAU. Tidak, cerita kali ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan mata kuliah Ekoperik.

Komti ESL 49 seperti kesal bukan main saat dia mengatakan bahwa hampir saja dia meng”unfollow” aku di twitter disebabkan oleh kesukaanku terhadap KPOP. Aku akui bahwa ketika aku sedang online, maka hampir semua berita mengenai idola yang aku suka akan aku RT. Jadi, tidak heran jika hampir 20 kali RT yang kulakukan dalam sekali waktu akan membuat para followersku geram.

Aku sadar, tapi nyatanya tetap saja kulakukan. Ini gerak refleks namanya huhu

Dia menyadarkanku bahwa benar social media itu adalah sarana untuk menuangkan perasaan, dan lain sebagainya, tapi tetap saja harus menjunjung “kode etik” dalam persocialmedian (maafkan bahasanya) ><

Bahkan dia tahu mengenai kejadian kecelakaan mobil yang terjadi pada Ladies Code, girlband asal Korea Selatan beberapa waktu yang lalu tersebut. Dia pun sampai menyebutkan nama salah satu member yang meninggal.

Hal ini menyadarkanku bahwa bukan hanya dia saja yang telah kurugikan mengenai hal ini, tetapi juga beberapa nama yang telah rela mengikutiku di twitter. Mulai saat ini, aku tidak akan meRT hal-hal seperti itu lagi melainkan hanya akan menjadi konsumsi pribadiku saja. Perubahan yang luar biasa, bukan?

Lalu, dosen mata kuliah Ekonomi Perikanan, beliau juga menyadarkanku bahwa betapa pentingnya sebagai mahasiswa untuk membuat sebuah PKM. Bukan mahasiswa namanya jika belum pernah sekalipun membuat sebuah PKM. Karena begitu pentingnya sebuah PKM, maka dia menganjurkan kami untuk segera membuat kelompok PKM. Bahkan dia menyarankan beberapa ide PKM agar kami, esl 49, terpacu.

Penjelasan beliau memacu aku untuk membuat sebuah PKM, tapi masih dalam proses perundingan dengan temanku. Berdoa saja semoga semuanya lancar dan rencana ini dapat berjalan dengan baik, aamiin ><

Hal terakhir adalah mengenai mata kuliah PKP, entah mengapa kuliah hari ini begitu menyenangkan bagiku. Banyak informasi seputar pertanian, ekonomi, dan lain sebagainya yang beliau beberkan kepada kami. Terutama segala permasalahan dan sistem yang masih carut marut saat ini. Hal ini membuatku sangat ingin membuat sebuah kultweet.

Hanya saja aku sadar betapa masih terbatasnya pengetahuanku mengenai hal-hal tersebut. Alasannya karena aku malas membaca koran, aku malas menonton berita, aku malas mendengar pembicaraan ataupun diskusi mengenai politik, dan lain sebagainya.

Aku sangat ingin menjadi beberapa dari mereka yang tulisannya sering dimuat di koran dan mereka yang buah pikirannya sangat ditunggu oleh masyarakat. Aku sering bertanya, “Kapan aku bisa berada di posisi mereka?”

Aku tahu banyak kesempatan dan peluang yang telah diberikan padaku, tapi akhirnya aku sia-siakan begitu saja. Contoh: saat aku menjadi panitia di Kompas Saba Kampus. Aku bertemu langsung dengan Mas Ingki Rinaldi, salah satu reporter handal di Kompas. Bahkan aku ditunjuk sebagai LO beliau, tapi nyatanya aku tidak berani dan minta diganti dengan panitia yang lain. Nyaliku terlalu kecil.

Padahal jika saja saat itu aku berani mengobrol dengan beliau, maka link kerjaku tak akan sesempit ini. Peluangku untuk menjadi seorang penulis tidak akan sedangkal ini.

Lalu, ketika aku diterima sebagai seorang reporter magang di Koran Kampus IPB. Benar tulisanku masih banyak kekurangan di sana-sini, tapi salah seorang senior yang saat itu menjabat sebagai pemimpin redaksi telah memuji tulisanku. Walau tulisanku lebih sering dia bongkar habis karena masih terlalu bertele-tele dan belum berbentuk seperti sebuah artikel penuh wawasan, tapi setidaknya dia menghargai dan mengatakan bahwa itu sudah bagus.

Dia memberiku banyak arahan dan kepercayaan bahwa aku bisa menulis, tapi pada akhirnya aku keluar juga. Aku merasa kalau bakatku bukanlah sebagai seorang jurnalis, aku hanya suka menulis, tapi bukan tentang hal itu. Aku berpikir bahwa mengukir sebuah kalimat untuk menjadi sebuah artikel penuh intrik adalah hal yang bukan passionku. Hal itu begitu sulit untuk kujalani, hingga akhirnya aku bergabung ke dalam sebuah tim redaksi majalah departemen, Maroon.

Tulisanku memang langsung dimuat di sana, tanpa melewati sebuah proses editing yang ketat seperti waktu di Korpus dulu, tapi justru hal itulah yang membuatku kecewa. Aku menginginkan sebuah penilaian dan koreksi atas apa yang telah aku hasilkan.

Saat ini, aku merasa malu atas tulisanku yang telah dimuat karena aku masih terlalu mentah untuk dipercayai sebagai seorang reporter atau bisa jadi ini adalah sebuah langkah kecilku untuk mewujudkan mimpi besarku menjadi seorang reporter ><