Senin, 05 Oktober 2015

[FANFICT] AIRPLANE - IKON



Kenalkan, namaku Minzy. Sejak kecil aku punya dua teman dekat yang selalu ada di saat aku butuh “tempat sampah” dan “tempat bermain”. Keduanya memiliki selera musik yang sama yaitu hip-hop, namun memiliki kepribadian yang cukup berbeda.
Bobby memiliki karakter free-spirit, namun akan sangat serius ketika sudah memasuki wilayah bermusiknya. Sedangkan Hanbin lebih tegas dan lugas, namun akan menjadi lemah jika berhadapan dengan wanita ^^
Awalnya, bahkan jauh sebelum kami lahir, kedua ibu mereka telah melakukan perjanjian bahwasanya jika anak mereka berdua laki-laki dan perempuan maka akan dijodohkan, namun sayangnya keduanya terlahir sebagai laki-laki. Maka perjanjian yang telah dilakukan itupun batal dan jadilah mereka berdua menjadi seperti saudara kembar yang terus berdua kemanapun mereka pergi. Lucu sekali.
Bobby lebih tua setahun dibandingkan Hanbin, namun Hanbin lebih memiliki leadership dibandingkan Bobby. Hal inilah yang menjadi nilai plus dari Hanbin yang menjadikannya idola di kalangan wanita.
Dengan leadership yang dimilikinya, Hanbin selalu mampu melindungiku. Bahkan di saat dia sendiri juga membutuhkan perlindungan. Teringat kejadian beberapa tahun yang lalu saat kami bertiga tersesat di hutan saat sedang melakukan perjalanan wisata sekolah. Bobby langsung memutuskan untuk mencari pertolongan dan pergi meninggalkan aku dan Hanbin di tengah hutan. Hanbin tidak banyak berkata saat itu, dia melepaskan Bobby pergi begitu saja dan terus menjagaku.
Saat kami ditemukan, Bobby langsung menggendongku dan membawaku ke mess dan menjagaku semalaman penuh. Sedangkan Hanbin harus dilarikan ke rumah sakit karena mengalami dehidrasi dan kakinya yang terluka cukup parah. Tanpa kutahu ternyata Hanbin terus mengisi botol minumku dengan air mineral miliknya agar aku tidak kehabisan air dan kakinya terluka saat mencoba mencari pertolongan dengan memanjat pohon.
Walau begitu, kepribadian Bobby lebih menarik bagiku. Free-spirit. Santai, bebas, lepas. Didekatnya aku selalu mampu menemukan diriku yang sebenarnya. Dia membuatku berani untuk bermimpi setinggi-tingginya walau kadang terasa irrasional namun dipikirannya akan menjadi rasional. Entah bagaimana dia selalu mampu menemukan sudut positif dari segala aspek.
Bobby selalu mampu menjadikan hal sederhana menjadi hal yang paling menyenangkan, bahkan sekedar sepasang sumpit, bisa menjadi alat bermain kami yang menyenangkan. Mengetuk-ngetukkan sumpit ke manapun yang kami suka untuk menghasilkan musik, musik indah dengan diiringi beat-box dari bibirnya. Luar biasa.
Namun, hal itu menjadi hal yang paling luar biasa jika ditambah dengan lirik dan additional music dari Hanbin. Sang produser kita. Hanbin sangat jenius dalam menciptakan lagu. Tidak hanya sekedar track belaka, namun lagu full. Aku bangga padanya.
Kami bertiga sering menghabiskan waktu bersama sepulang sekolah. Menjadikan waktu terbatas kami sebagai ajang pelepasan penat dan lelah setelah seharian beraktivitas. Menyenangkan bermain dengan mereka.
Tanpa kusadari ternyata muncullah rasa itu. Rasa yang menjadi perusak hubungan hebat kami. Rasa yang menjadi alasan untuk segalanya.
Tanpa kusadari Hanbin sering tersakiti olehku, tanpa kusadari pun aku sering tersakiti oleh Bobby. Tanpa kami sadari kami bertiga saling menyakiti.
Hingga akhirnya, mimpiku menjadi seorang desainer mulai menemukan titik terang. Aku diterima di kampus ternama di UK yang memiliki fasilitas lengkap untuk para desainer. Bobby benar, apa yang dikatakannya selama ini menjadi real bagiku.
Namun, fakta lainnya yang harus kuhadapi adalah aku harus meninggalkan mereka berdua di sini. Meninggalkan kedua sahabat hebatku dan cinta pertamaku.
Saat keberangkatanku bertepatan dengan audisi Show Me The Money Bobby dan Hanbin. Kecewa, tanpa mereka di sini maka kepergianku terasa menyedihkan. Setiap langkah yang kuambil di bandara terasa berat. Kuhembuskan napas dan berbalik ke belakang berharap di sana telah berdiri Bobby dan Hanbin, namun sia-sia. Akhirnya kulangkahkan kakiku mantap menuju ruang check-in, mencoba melapangkan hatiku.
**
            “Minzy-ah.”
            Tanpa kutahu ternyata ada seseorang yang sedang berlari menuju bandara dengan sisa-sisa tenaga terakhirnya. Dia berlari menyusulku sambil membawa kalung emas pertanda bahwa dia lulus audisi dan berhasil masuk ke babak selanjutnya di Show Me The Money.
            “Minzy-ah, aku datang..” bisiknya sambil membungkuk kehabisan napas di depan ruang check in.
            Kau tahu siapa yang menyusulku? Dia adalah cinta pertamaku, namun sayang, aku tidak pernah berani mendekatinya karena dia adalah idola di sekolahku bahkan sejak kami masih kanak-kanak. Aku merasa tidak cukup pantas untuknya.
            “Hanbin-ah,” bisikku lembut sambil memegang replika pesawat yang diberikannya padaku saat tahu aku diterima di UK.

Rabu, 30 September 2015

Wish You Well



            Aku sudah memilih, maka aku akan konsisten dengan pilihanku. Walau dia kerap menggodaku, namun aku tahu bahwa jika aku tegas padanya maka semuanya tetap akan begini. Semua yang telah kami lalui selama 2 tahun belakangan ini akan berakhir dan terlupakan.
            Gadis lain sudah di sisiku, akan menemaniku entah sampai kapan. Berjalan beriringan denganku entah ke mana. Tidak seperti dia yang hilang-timbul entah mengapa.
            Aku tahu bahwa keputusanku ini akan menjadi bumerang bagi diriku sendiri, namun aku sudah lelah. Tanpa kusadari bahkan sejak tahun pertama kami aku sudah merasa lelah. Bagaimana tidak? Menjalani hubungan yang kerap pasang-surut, menjalin komunikasi intens ketika dia sering memiliki kekasih baru. Lalu aku apa? Statusku apa?
           Kali ini biar aku yang memegang kendali, aku nakhoda di hubungan kami. Aku yang akan menjadi penentu apakah hubungan ini akan kembali seperti dulu atau akan tetap seperti sekarang, karam.
           Andai dia tahu betapa sulitnya melupakannya, bahkan sejujurnya sampai sekarang aku ragu terhadap hatiku sendiri. Apakah benar keputusan yang telah kuambil?
         Mengacuhkannya adalah salah satu pilihan terbaikku, karena aku takut hatiku kembali luluh terhadapnya ditambah lagi ternyata dia sudah putus dengan kekasih barunya itu. Apakah aku masih punya kesempatan? Ha, pikiran gila itu kembali muncul di benakku.
       Tidak, aku tidak akan kembali padanya. Kapal ini tidak akan pernah kembali ke pelabuhan itu, aku tidak akan kembali menyulitkan diriku sendiri di tengah badai hanya untuk sampai ke pelabuhan itu.
       Gadis lain sudah memberiku banyak walau hubungan kami baru hitungan bulan. Bahkan keputusanku untuk berpindah keyakinan karena dia yang memberiku pencerahan. Dia memberiku cahaya, dan aku percaya padanya. Aku hanya mampu berharap kalau dengan keputusan ini, cinta Illahi akan kugenggam dan menjadi penuntunku menuju-Nya.
         “Semoga kau juga bahagia dengan hidupmu, sayang,” hanya itu yang mampu kukatakan padamu melalui doa-doa yang kupanjatkan.

Minggu, 20 September 2015

I'll continue my life from now on and left you behind



                Aku hanya mampu memerhatikannya dari kejauhan, napasku memburu, sesak kurasakan di hati. Apa yang membuatnya setega itu padaku? Sesuka hatinya memasuki duniaku dan sesuka hatinya pula pergi dari sisiku. Seperti itu terus, berulang-ulang selama hampir 3 tahun.
                Aku tahu aku bodoh jika masih mengharapkannya, lagipula mengharapkan apa? Bahagia bersamanya? Omong kosong! Dia tak akan pernah bisa kugapai, seperti pungguk merindukan bulan oi.
                 Mengharapkan kebahagiaannya bersama orang lain pun itu hal omong kosong bagiku. Tidak mungkin aku mengharapkannya bahagia jika bersama orang lain. Cinta itu adalah melepaskan adalah kata-kata paling tidak masuk akal yang pernah kudengar. Bukankah jika kau benar mencintainya maka kau harus memperjuangkannya?
                Ya sudahlah, aku akan (kembali) mencoba untuk mengikhlaskannya, merelakannya pergi bersama semua ambisinya. Membiarkannya berlaku sesukanya tanpa harus terlalu memainkan perasaanku. LOGIKA! Ya, semua harus serba logika sekarang. OTAK! Ya, semua harus menggunakan otak sekarang. Rasanya menggunakan hati tidak akan berguna lagi.
                Pada akhirnya aku juga akan mengucapkan CONGRATULATIONS padamu, bukan? Congratulations karena kau telah berhasil membuatku bodoh selama ini. Namun, pada akhirnya pula aku akan pergi dari hidupmu, seperti embun yang akan kembali menguap menjadi titik-titik awan di langit sana. Mengamatimu dari kejauhan namun aku jamin aku akan berada jauh di atasmu. Biar rasa ini menjadi dendamku untuk menjadi lebih sukses darimu.
                So, i will continue my life from now on and left you behind.
            Waktu kuliah telah selesai, kuambil tasku dan beranjak pergi dari sana. Meninggalkannya yang sedang tertawa bersama teman-temannya. Aku tidak peduli.
BGM     : Congratulations – Day6