Sabtu, 10 Desember 2016

[PART1] Pembagian Dosen Pembimbing dan Topik Skripsi

            Kali ini mau cerita tentang perjalanan 8 semesterku yang telah berakhir beberapa hari lalu. Yeay, finally i’m a bachelor of Economy! Thanks to Allah SWT, my one and only God! Papa dan Mama yang selalu memenuhi kebutuhanku dalam segala hal. Kak sari yang selalu siap sedia dengerin keluh-kesahku.

            Berawal dari semester 7, pertengahan tahun 2015, angkatan kami (49) melakukan pembagian dosen pembimbing skripsi (dosen PS). Kita dapat memilih dosen mana yang ingin kita jadikan sebagai dosen PS dan topik skripsi yang ingin kita lakukan. Departemenku Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan (ESL) sebenarnya terbagi atas 3 topik besar, yaitu Ekonomi Sumberdaya (Ekosum), Ekonomi Lingkungan (Ekoling), dan Ekonomi Pertanian (Ekoper). Dari ketiga topik besar itu terbagi lagi atas topik-topik kecil lainnya, seperti ada Ekonomi Kelembagaan (Ekolem) yang termasuk ke dalam Ekosum. Saat itu aku berpikir bahwa aku harus menghindari Ekosum karena nilai mata kuliahku cukup buruk di Ekosum, namun nilai Ekolemku sangat memuaskan. Akhirnya aku memilih Ekolem sebagai topik skripsiku dan memilih Bapak Aceng (Kepala Departemen) sebagai pembimbing skripsi 1.

Beberapa waktu kemudian, diumumkan pembagian dosen PS. Sesuai dengan pilihan pertamaku, aku menjadi mahasiswi bimbingan Bapak. Kami terdiri dari 6 orang dan semuanya adalah perempuan. Aku, Hana, Sylvi, Zukhruf, Ica, dan Rere. Pada saat itu, aku dan teman-teman lainnya masih sangat malas untuk bimbingan dan belum menentukan topik pasti yang ingin kami lakukan. Akhirnya, kami memutuskan untuk tidak bertemu bapak pada semester 7, bahkan proposal penelitianpun belum ditulis. Pada akhir semester 7, kami menemui bapak dan dimarahi habis-habisan *crying out loud* *NIGHTMARE*

Setelah kejadian “mengerikan” itu kami langsung memutuskan topik penelitian yang akhirnya diambil dari proyek / kegiatan / penelitian yang sedang bapak lakukan. Awalnya aku berniat melakukan penelitian di Medan, mengenai kelapa sawit, tapi bapak menolak karena lokasi yang jauh dan aku belum melakukan survey lapang. Akhirnya, aku ditempatkan di Waduk Jatiluhur membahas mengenai Keramba Jaring Apung (KJA). Sedihnya, hanya aku sendiri yang ditempatkan di Waduk Jatiluhur; Zukhruf, Ica, dan Rere di Waduk Cirata, Hana di kampus dengan mempertimbangkan lokasi rumahnya yang juga berada di sekitar kampus, dan Sylvi yang sempat ganti judul Skripsi menjadi Emisi Pajak yang berlokasi di Bogor Kota.

*