Senin, 09 Maret 2015

[CHAPTER TWO] DONGENG



Lagi-lagi si putri kecil hanya mampu memerhatikan ibunya, sang ratu, dari balik pintu kamar utama. Sudah aturan kerajaan bahwa tidak sembarang orang boleh masuk ke dalam kamar utama. Bahkan pelayan yang bertugas membersihkan kamar saja harus datang dan pergi sesuai jadwal yang telah ditentukan sebelumnya. Begitu pula dengan si putri kecil, walau dia merupakan anggota keluarga kerajaan, namun bukan berarti dia memiliki hak istimewa. Dia tetap tidak bisa masuk ke dalam kamar utama sesukanya.
Dia duduk di depan pintu kamar utama sambil memeluk boneka kuda poni ungunya, boneka kesayangan yang telah dimilikinya sejak berumur 2 tahun. Boneka pertama dan terakhir yang dia dapat dari almarhum sang kakek. Raja sebelum ayahnya.
Dia terus memeluk bonekanya hingga terbangun karena mendengar suara ibunya, sang ratu, memanggil namanya. Sebenarnya banyak pelayan yang berlalu lalang di dekatnya, namun tidak ada yang berani membangunkan si putri kecil. Si putri kecil memang punya kebiasaan buruk, dia selalu marah jika dibangunkan kecuali jika itu sang ratu, raja, dan kuda poninya yang tentu saja tidak akan pernah membangunkan tidurnya.
“Sayang,” sang ratu memeluk putrinya dan mengangkat tubuh mungil itu dalam pelukannya.
“Ibunda,” jawab si putri kecil lemah, tubuhnya menggigil kedinginan.
“Sayang maafkan ibunda. Ibunda tidak tahu bahwa kau ada di sana,” sang ratu terisak melihat putri kesayangannya jatuh sakit.
“Ibunda, apa yang ibunda tulis di kertas itu? Mengapa sekarang kertasnya berwarna putih dan tercium wangi bunga lily darinya?” si putri kecil bertanya penasaran, walau tubuhnya lemah, namun rasa penasarannya tidak dapat dibendung.
“Bukan hal penting. Sekarang kau istirahatlah. Akan ibunda bawakan obat-obatan untukmu sayang,” segera sang ratu berlalu setelah membaringkan si putri kecil di tempat tidur megah miliknya. Tempat tidur tersebut berwarna merah dan tentu saja seperti benda-benda lainnya yang ada di istana, tempat tidur itu juga mengaurkan wewangian bunga. Kali ini sesuai dengan warnanya, tempat tidur tersebut mengaurkan wewangian bunga mawar. Harum hingga menghanyutkan siapa saja yang tidur di atasnya.
“Ibunda...” si putri kecil terus memanggil ibunya. Boneka kuda poni miliknya tergeletak jauh dari tubuhnya. Dia berusaha meraih bonekanya, namun lengan mungilnya tak mampu meraih boneka itu. Si putri kecil mulai terisak, dia tidak bisa menjangkau boneka kesayangannya. Hingga akhirnya dia jatuh tertidur dan melupakan boneka kesayangannya dan bergelut dengan mimpi indahnya.
Sang raja berlari tergopoh-gopoh ke dalam kamar utama setelah mendengar bahwa putri kesayangannya jatuh sakit. Pertemuan penting bersama beberapa kerajaan lain yang sedang dihadirinya ditinggalkan begitu saja. Dia tidak peduli bahwa tindakannya dapat memengaruhi kerja sama yang tengah dijalani atau bahkan yang akan dijalani oleh kerajaan miliknya dengan kerajaan-kerajaan lainnya.
Putri kecilnya adalah prioritas utamanya.
Sesampainya di kamar utama, dia tidak menemukan istrinya. Hanya ada putri kecil kesayangannya, segelas ramuan kesehatan yang telah diminum setengahnya, dan sepucuk surat berwarna putih yang tergeletak di bawah tempat tidur.
Sang raja menghampiri si putri kecil lalu mencium lembut pipi chubby putri kecil kesayangannya. Setelah sejenak dia melihat putri kecil kesayangannya tengah tertidur pulas, perhatiannya pun dialihkan pada sepucuk surat berwarna putih yang tergeletak begitu saja di bawah tempat tidur yang tak jauh dari kakinya.
Sang raja memungut surat tersebut dan melihat tulisan tangan istrinya ada di sampul depan surat tersebut. Sang raja tidak mengenal nama si penerima surat tersebut. Namun sang raja tahu betul bahwa istrinya tidak mempunyai siapa-siapa untuk ia kirimi surat.
Setelah lama memerhatikan sepucuk surat berwarna putih itu, sang raja kemudian memutuskan untuk membuka dan membaca surat itu.
Tahukan kalian apa yang akan terjadi selanjutnya? Hal mengejutkan dan di luar dugaan akan menyambut kalian di chapter selanjutnya.