Sabtu, 18 April 2015

I Feel You Again, My Unfinished Story



            Memilih diam bukanlah cara yang baik untuk menyelesaikan masalah. Tidak apa jika tujuannya untuk meredam amarah, tapi setelahnya lebih baik dibicarakan agar tidak meninggalkan dendam dalam hati. Hal itu aku dapat dalam kehidupan orang Jepang yang memilih untuk mengutarakan seluruh perasaannya. Cara yang terlihat mudah namun sulit untuk dilakukan dan hal itu pula yang jarang dilakukan oleh orang Indonesia. Banyak yang lebih memilih untuk diam dan menunggu, entah sampai kapan. Lebih memilih untuk menunggu dalam ketidakpastian yang belum tentu berakhir bahagia dan seperti yang diinginkan. Dan pada akhirnya akan merasakan sakit dan kesia-siaan namun tetap menyalahkan keadaan.

            Hal itu pula yang terjadi padaku beberapa tahun lalu, mungkin aku punya alasan untuk memilih diam dan menunggu. Perempuan. Ya, genderku mengajarkan untuk tidak melangkah duluan walau saat ini sudah memasuki era emansipasi wanita namun dalam hal ini untuk menyatakan perasaan duluan masih “haram” hukumnya. Gengsi dan gak etis.

            6 bulan. Entah itu bisa dibilang singkat atau lama, tapi cukup meninggalkan bekas. Seperti yang sudah aku singgung di atas, sebuah penantian yang akan berakhir pada rasa sakit dan kesia-siaan.

            Hati. Sampai detik ini aku tidak tahu apa itu “cinta” atau hanya sekedar suka karena aku tidak tahu bagaimana rasanya jatuh cinta saat ini. Mati rasa. Mungkin, aku pernah disakiti oleh seorang “pemain” yang cukup handal ^^ Karenanya aku jadi dibuat bingung saat ini, apakah aku pernah merasakan jatuh cinta sebelumnya? Apakah penantian 6 bulan itu adalah sebuah cinta atau hanya sebuah rasa penasaran?

            Mata. Aku tersesat di masa-masa penantian karena mata coklat miliknya. Mata coklat yang saat itu berada tak jauh dariku dan langsung membuat aku terdiam, hahaha kekanakan? Melankolis? Mungkin. Namanya juga hati yang bicara, bukan lagi logika yang pegang kendali.

            Akhirnya. Penantian yang sia-sia karena pada akhirnya aku harus mundur karena ternyata dia menyukai temanku yang lain. Sedihnya bahkan sebelum aku mulai bermain dalam permainan hati itu. Selama 6 bulan hanya diam seribu bahasa dan suatu hari dipaksa mundur dan berhenti bermain. Diskualifikasi. Nyatanya lawanku jauh lebih hebat sehingga tanpa dia perlu bermain pun dia berhasil memegang pialanya. Miris? Hahaha tentu.

            Berharap padanya sebanyak dua kali adalah sebuah kebodohan yang aku alami. Setelah berpisah saat lulus SMA, akhirnya kami bertemu lagi dalam sebuah acara reuni dan aku jatuh sekali lagi. Bodoh! Sebuah pengharapan yang tidak ada habisnya bahkan sampai saat ini! Saat ini! Detik ini! Aku tidak tahu apa yang aku lihat darinya, bahkan untuk ngobrol face to face kami tidak pernah sekali pun! Padahal sudah berteman selama 6 tahun. Ya, kami masih berkomunikasi sampai sekarang, sejak dulu bahkan, namun hanya melalui media social. Hanya melalui media social.

            Makhluk pertama yang aku simpan fotonya diam-diam, makhluk pertama yang aku suka tanpa alasan karena aku suka dia bahkan sebelum aku mengenal dan tahu namanya, dan makhluk pertama yang aku suka sebanyak dua kali dan aku yakin kalau saat ini aku bertemu dengannya lagi maka aku akan suka untuk yang ketiga kalinya dan begitu seterusnya.

            Sebuah perhatian yang ditujukan untuk seorang teman. Aku tahu dan sadar dan tidak pernah berani berharap. Bahkan aku takut tidak mampu menyejajari langkah kakinya dalam memahami setiap ambisinya. Dia bergerak begitu cepat.

            Hanya mereka yang tahu betapa bodoh dan naifnya aku, hanya mereka. Ya Tuhan kenapa tiba-tiba sakit saat mengingatnya? Semua sudah lama terjadi namun kenapa rasa sakitnya masih terasa? Dia tidak salah, dia masih menganggapku teman, dia masih perhatian dan bersikap baik. Justru itu yang membuatku kesal, dia tahu tapi tidak pernah membicarakannya. Berpura-pura dengan tetap menjaga komunikasi denganku, seolah-olah inilah yang harusnya terjadi.

            Andai si pemain itu tidak pernah mengacak-acak hidupku, andai! Dia bertingkah sok jagoan dengan menyelamatkanku tepat di saat aku tahu bahwa “dia” tengah menyukai gadis lain. Sikap heronya justru membuatku muak saat ini! Tidak bisakah dia diam dan bersikap layaknya seorang pria? Menjaga wibawanya dan bukan mengumbar cinta ke semua gadis? Oke ini fix aku ngawur, dia tidak semurah itu tapi tetap saja dia menebar mantan di mana-mana, di segala tempat -___- dan aku muak menjadi salah satunya!

            Sialnya lagi kenapa aku harus mengingat kisah ini lagi? Bahkan menceritakannya lagi -__- Ini semua karena permainan bodoh yang aku tawarkan tadi malam, truth or dare! Semoga kisah yang tidak inspiratif ini tidak dibaca oleh siapa pun, aku hanya perlu menuangkannya karena kalau tidak maka aku akan menangis malam ini. XOXO