Kamis, 16 Januari 2014

I'm Jealous - Minzy



“Yaa, gwaenchana?” tanya Krystal khawatir. Dia menepuk pelan pundak Minzy, menyadarkan Minzy dari lamunannya.

Seharian ini Minzy memang terlihat murung. ‘Sepertinya ada sesuatu yang tidak beres,’ pikir Krystal.

“Krystal-ah..” bisik Minzy lirih. Seperti tidak punya tenaga walau hanya untuk berbicara.

“Kau kenapa? Ayo cerita!” paksa Krystal. Tak tahan dengan sikap pendiam Minzy hari ini.

“Aku cemburu,” Minzy kembali berucap lirih.

“Cemburu? Sama siapa?” tanya Krystal antusias. Tidak menyangka bahwa sobatnya ini pencemburu.

“Kau tau, dia.. Jiyong.. kemarin mengirimiku pesan. Kukira hanya untukku, bahkan panggilan kecil yang dia selipkan di belakang namaku saat memanggilku. Kukira itu hanya untukku, tapi ternyata dia juga mengucapkannya pada gadis lain. Kemarin juga ternyata saat sedang sms-an denganku, dia juga sedang sms-an dengan gadis itu. Aku cemburu,” curhat Minzy panjang lebar dengan raut wajah sedih. Setengah semangat hidupnya sudah menguap entah ke mana.

“Lalu?”

“Lalu apa? Lalu aku kesal sekarang! Aku cemburu. Kau tau betapa aku sangat menyukainya kan?” pekik Minzy. Dia membanting badannya ke kasur dan langsung menyelubungi tubuhnya dengan selimut tebal bercorak beruang.

“Aku tau, tapi dia pasti punya alasan untuk itu,” Krystal mencoba menenangkan Minzy.

“Memang selalu ada alasan untuk melakukan sesuatu, Krystal-ah. Bahkan jika sekarang aku melompat ke luar jendela, aku memiliki alasannya,” pekik Minzy dari balik selimut.

Krystal terkikik mendengar ocehan kekanakan Minzy.

“Apa kau tertawa?” tanya Minzy sambil membuka selubung selimutnya. Mendelik ke arah Krystal yang sedang duduk di pinggir tempat tidurnya. Mencoba menahan tawa.

“Aku? Tidak,” jawab Krystal kelewat cepat. Tersirat kebohongan dari suaranya.

“Kau bohong. Kau menertawaiku. Kau pasti berpikir bahwa aku terlalu kekanakan dan sangat pencemburu. Iya kan?” tuduh Minzy.

“Tidak, Minzy-ah. Percayalah. Aku hanya tidak habis pikir. Bagaimana bisa seorang Minzy sangat over-protective pada pria seperti Jiyong? Jiyong tidak seperti itu, kau tau?”

“Tidak seperti itu bagaimana? Semuanya sudah jelas, Krystal-ah. Dia cowok menel yang suka menggoda semua wanita dan aku tidak suka pria seperti itu. Aku ilfeel!” Minzy kembali menutupi tubuhnya dengan selimut. Mencoba menyembunyikan air matanya yang hendak menetes. Degup jantung Minzy mulai tidak beraturan menahan emosi dan cemburu.

“Kau tidak ilfeel, Minzy-ah. Kau cemburu,” tegas Krystal.

“Iya, aku cemburu, tapi aku juga ilfeel. Cemburu yang mengarah ke ilfeel,” Minzy ngotot.

“Hahaha.. Istilah apa lagi itu? Cemburu yang mengarah ke ilfeel? Minzy-ah, jangan terlalu negative thinking. Kita lihat saja nanti bagaimana akhirnya. Jangan terlalu cepat mengambil keputusan. Nanti kau sendiri yang akan menyesal,” saran Krystal.

Minzy menggeleng-geleng dari balik selimut, mencoba untuk menghiraukan Krystal.

“Sudahlah. Lupakan Jiyong. Besok kau masih ada ujian kan? Ayo lanjutkan belajarmu. Kau harus lakukan yang terbaik untuk ujian besok. Oke?” Krystal menyemangati Minzy.

‘Aku bohong, Krystal-ah. Kau benar. Aku hanya cemburu. This feeling is still in here,’ ujar Minzy lirih.

**