Sabtu, 17 Agustus 2013

Akhirnya, Kisah (Pedih) Ini Berakhir Juga



   
Source: http://achmadsyarif.blogspot.com
        
           Kisahku berakhir juga hari ini. Kembali kuinjakkan kakiku di kota kembang, meninggalkan Kota Pekanbaru jauh di belakang sana. Hati ini meraung pedih tak rela harus meninggalkan kota indah itu. Karena otomatis aku juga harus meninggalkan dia. Hem, lebih tepatnya aku juga harus meninggalkan kenangan bersamanya di sana.

               Apa kalian, para pembaca, berpikir bahwa aku benar-benar meninggalkannya?

         Kalau kalian berpikir iya, kalian salah. Karena sejujurnya, kami juga tak pernah menyatukan komitmen. Ini “cinta sebelah pihak”. Hanya hatiku yang setiap malam merindukannya. Hanya otakku yang setiap hari memikirkannya. Hanya aku yang setiap saat mencintainya. Miris? Iya.

            Lebih menyakitkannya lagi, hati ini sudah jatuh sejak empat tahun yang lalu. Sayangnya, sejak itu pula hati ini terus diabaikan olehnya. Tidak, dia tidak sejahat itu. Dia mengabaikan rasa ini karena “dulu” dia tidak tahu tentang keberadaan hati ini.

            Apa kalian, para pembaca, bertanya, “Apakah sekarang dia sudah tahu?”

            Aku akan menjawab, “Iya, dia sudah tahu. Sayangnya dia tahu bukan dari mulutku sendiri.”

            Aku tak pernah berani untuk menyatakannya, aku terlalu pengecut untuk itu. Aku lebih memilih untuk merasa sakit daripada membiarkannya tahu tentang hati ini.

            Kalian penasaran dengan kelanjutan hubungan kami setelah dia tahu?

            Aku akan menjelaskan, “Tidak ada. Tidak ada kelanjutan di hubungan kami.”

            Seperti yang aku katakan di atas, dia tahu dari orang lain. Jadi, ketika dia bertemu kembali denganku setelah empat tahun berpisah, hanya sebuah senyuman yang diberikannya untukku. Dia tidak tahu bahwa hati ini terus meronta setiap kali aku mengingatnya.

            Saat bertemu dengannya pun aku hanya bisa tersenyum, tidak tahu harus berbuat apa. Karena dengan melihatnya saja itu sudah “cukup” untukku. Walau melihatnya dari jauh sekali pun, itu sudah sangat “cukup” untukku.

            Ya, aku adalah seorang Secret Admirer. Aku adalah seorang pengagum rahasianya. Bahkan hingga detik ini. Detik ketika kuinjakkan kakiku di Bandung, Jawa Barat.

            Memutuskan menjadi seorang SA (secret admirer) seharusnya sudah siap dengan resiko “hanya bisa melihatnya dari jauh”. Dulu aku siap, karena dulu aku bisa melihatnya hampir setiap hari di sekolah. Tapi sekarang, rasanya duniaku runtuh. Harapanku porak poranda. Aku tidak akan pernah bisa lagi melihatnya. Bahkan dari jauh sekali pun. Tempat kami dipisahkan oleh sebuah selat, pemisah Pulau Sumatera dan Pulau Jawa. Bagaimana aku bisa melihatnya?

            Sebenarnya, ini bukan kali pertama aku berpisah dengannya. Hanya saja, ini adalah liburan kuliah pertamaku bisa kembali melihatnya. Dulu, hati ini pernah mengkhianatinya. Bahkan hingga dua tahun lamanya. Hanya saja sejak pertemuan malam itu, rasa yang dulu kukira sudah mati, kembali merayap masuk. Mendobrak sela-sela luka penantian itu tiada ampun. Ya, hati ini kembali jatuh untuk yang kedua kalinya. Padahal tiga tahun lalu, dia pernah berusaha untuk bangkit dan berhenti untuk menanti. Sayangnya usaha hati ini gagal, kasihan.

            Sudahlah, lupakan semua kisahku. Kisah menyedihkan tentang seorang gadis (SA) yang sangat (?) mencintai seorang pria.

            Inspired: Analogi Cinta Sendiri (OKA @landakgaul)