Jumat, 12 September 2014

Langkah Kecil untuk Mimpi yang Besar

Hari ini aku mendapat pencerahan mengenai social media. Pencerahan yang seperti apa?
       
Baik, aku akan mulai bercerita.
Pagi ini diawali dengan kuliah Ekonomi Perikanan di Ruang Audit PAU. Tidak, cerita kali ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan mata kuliah Ekoperik.

Komti ESL 49 seperti kesal bukan main saat dia mengatakan bahwa hampir saja dia meng”unfollow” aku di twitter disebabkan oleh kesukaanku terhadap KPOP. Aku akui bahwa ketika aku sedang online, maka hampir semua berita mengenai idola yang aku suka akan aku RT. Jadi, tidak heran jika hampir 20 kali RT yang kulakukan dalam sekali waktu akan membuat para followersku geram.

Aku sadar, tapi nyatanya tetap saja kulakukan. Ini gerak refleks namanya huhu

Dia menyadarkanku bahwa benar social media itu adalah sarana untuk menuangkan perasaan, dan lain sebagainya, tapi tetap saja harus menjunjung “kode etik” dalam persocialmedian (maafkan bahasanya) ><

Bahkan dia tahu mengenai kejadian kecelakaan mobil yang terjadi pada Ladies Code, girlband asal Korea Selatan beberapa waktu yang lalu tersebut. Dia pun sampai menyebutkan nama salah satu member yang meninggal.

Hal ini menyadarkanku bahwa bukan hanya dia saja yang telah kurugikan mengenai hal ini, tetapi juga beberapa nama yang telah rela mengikutiku di twitter. Mulai saat ini, aku tidak akan meRT hal-hal seperti itu lagi melainkan hanya akan menjadi konsumsi pribadiku saja. Perubahan yang luar biasa, bukan?

Lalu, dosen mata kuliah Ekonomi Perikanan, beliau juga menyadarkanku bahwa betapa pentingnya sebagai mahasiswa untuk membuat sebuah PKM. Bukan mahasiswa namanya jika belum pernah sekalipun membuat sebuah PKM. Karena begitu pentingnya sebuah PKM, maka dia menganjurkan kami untuk segera membuat kelompok PKM. Bahkan dia menyarankan beberapa ide PKM agar kami, esl 49, terpacu.

Penjelasan beliau memacu aku untuk membuat sebuah PKM, tapi masih dalam proses perundingan dengan temanku. Berdoa saja semoga semuanya lancar dan rencana ini dapat berjalan dengan baik, aamiin ><

Hal terakhir adalah mengenai mata kuliah PKP, entah mengapa kuliah hari ini begitu menyenangkan bagiku. Banyak informasi seputar pertanian, ekonomi, dan lain sebagainya yang beliau beberkan kepada kami. Terutama segala permasalahan dan sistem yang masih carut marut saat ini. Hal ini membuatku sangat ingin membuat sebuah kultweet.

Hanya saja aku sadar betapa masih terbatasnya pengetahuanku mengenai hal-hal tersebut. Alasannya karena aku malas membaca koran, aku malas menonton berita, aku malas mendengar pembicaraan ataupun diskusi mengenai politik, dan lain sebagainya.

Aku sangat ingin menjadi beberapa dari mereka yang tulisannya sering dimuat di koran dan mereka yang buah pikirannya sangat ditunggu oleh masyarakat. Aku sering bertanya, “Kapan aku bisa berada di posisi mereka?”

Aku tahu banyak kesempatan dan peluang yang telah diberikan padaku, tapi akhirnya aku sia-siakan begitu saja. Contoh: saat aku menjadi panitia di Kompas Saba Kampus. Aku bertemu langsung dengan Mas Ingki Rinaldi, salah satu reporter handal di Kompas. Bahkan aku ditunjuk sebagai LO beliau, tapi nyatanya aku tidak berani dan minta diganti dengan panitia yang lain. Nyaliku terlalu kecil.

Padahal jika saja saat itu aku berani mengobrol dengan beliau, maka link kerjaku tak akan sesempit ini. Peluangku untuk menjadi seorang penulis tidak akan sedangkal ini.

Lalu, ketika aku diterima sebagai seorang reporter magang di Koran Kampus IPB. Benar tulisanku masih banyak kekurangan di sana-sini, tapi salah seorang senior yang saat itu menjabat sebagai pemimpin redaksi telah memuji tulisanku. Walau tulisanku lebih sering dia bongkar habis karena masih terlalu bertele-tele dan belum berbentuk seperti sebuah artikel penuh wawasan, tapi setidaknya dia menghargai dan mengatakan bahwa itu sudah bagus.

Dia memberiku banyak arahan dan kepercayaan bahwa aku bisa menulis, tapi pada akhirnya aku keluar juga. Aku merasa kalau bakatku bukanlah sebagai seorang jurnalis, aku hanya suka menulis, tapi bukan tentang hal itu. Aku berpikir bahwa mengukir sebuah kalimat untuk menjadi sebuah artikel penuh intrik adalah hal yang bukan passionku. Hal itu begitu sulit untuk kujalani, hingga akhirnya aku bergabung ke dalam sebuah tim redaksi majalah departemen, Maroon.

Tulisanku memang langsung dimuat di sana, tanpa melewati sebuah proses editing yang ketat seperti waktu di Korpus dulu, tapi justru hal itulah yang membuatku kecewa. Aku menginginkan sebuah penilaian dan koreksi atas apa yang telah aku hasilkan.

Saat ini, aku merasa malu atas tulisanku yang telah dimuat karena aku masih terlalu mentah untuk dipercayai sebagai seorang reporter atau bisa jadi ini adalah sebuah langkah kecilku untuk mewujudkan mimpi besarku menjadi seorang reporter ><