Minggu, 21 Desember 2014

Get Well Really Soon, Friend




Mungkin gak adil kalau aku hanya membicarakan hal menyenangkan. Aku juga ingin berbagi kesedihan, tentu saja.
Temanku baru aja mendapat kabar yang tidak menyenangkan. Dia harus terbaring di rumah sakit dan menerima kenyataan bahwa “operasi” adalah salah satu jalan untuknya sembuh. Namun dengan resiko dia harus cuti kuliah selama 4 minggu. Padahal dua minggu lagi kami akan ujian akhir semester. Bagaimana dengan ujiannya?
Tentu saja dia berharap agar tidak perlu dioperasi, tapi jika hanya itu pilihan terbaiknya tentu dia harus menerimanya. Aku tentu berdoa yang terbaik untuknya, tapi aku merasa bersalah karena tidak pernah menjenguknya saat di kosan, tidak segera menanyakan kabarnya ketika kudengar dia tidak kuliah. Teman macam apa aku?
Padahal dia telah begitu percaya padaku hingga sering berbagi cerita yang hanya aku saja yang tahu, tapi aku tidak begitu perhatian?
Mungkin tulisan ini terkesan pencitraan, tapi siapa aku yang harus melakukan pencitraan? Aku hanya ingin siapa pun yang membaca ini, berkenan mendoakannya. Aku berusaha untuk tidak munafik, aku hanya ingin kesembuhannya segera. Aku sudah menyiapkan sesuatu untuknya. Kado ulang tahun yang akan menyambutnya ketika dia kembali ke Bogor.
Maaf karena kado ini datang terlambat, maaf karena tidak merayakan ulang tahunmu dengan baik, maaf karena gagal menjadi teman yang baik, dan terima kasih untuk semuanya. Kuharap kita akan berteman hingga bertahun-tahun ke depan. Kusayang Imet {}