Minggu, 13 April 2014

"Kepingan Kedua"



Melanjutkan kisah yang tadi malam aku posting. Kali ini aku akan menceritakan tentang beberapa teman lainnya.

Fahmi. Teman pertama di SMA yang meminta bantuanku untuk mencomblanginya dengan Rara. Kebetulan aku dan Rara berasal dari SMP yang sama. Itulah alasan Fahmi meminta bantuanku. Aku sih tak keberatan asal ada pajak jadiannya saja.

Dengan taktik yang kupunya akhirnya mereka berdua jadian dan aku mendapat bonus atas kinerjaku. Mungkin awal kedekatanku dengan Fahmi karena ajang mak comblang ini.

Sayangnya, hubungan mereka tidak berjalan lama dan lancar. Rara memutuskan Fahmi secara sepihak dengan alasan saudaranya yang sakit. Tapi sesungguhnya bukan itulah alasan yang sebenarnya. Rara memang tidak pernah menyukai Fahmi.

Hubungan mereka yang tidak bertahan lama itu membuat Fahmi patah hati. Akhirnya Fahmi menumpahkan seluruh rasa sakit hatinya padaku hampir setiap hari. Kedekatanku dan Fahmi ternyata menjadi boomerang antara hubungan dia dengan teman sebangkunya, Alfi, yang ternyata menyimpan rasa padaku.

Alfi yang merasa kalau Fahmi tahu tentang perasaannya padaku, tapi tetap tidak menjaga jarak denganku akhirnya memusuhi Fahmi dan menyebutnya “penikung” (read: orang yang merebut gebetan sahabatnya). Ditambah lagi dengan teman-teman lain yang tidak suka dengan sifat Fahmi yang sombong akhirnya juga memusuhinya. Aku orang yang bersifat netral kembali menjadi teman terbaik untuk Fahmi (read: menurutku sih).

Lupakan cerita tentang Fahmi karena kali ini kita akan berpindah ke Alfi.

Kesan pertamaku mengenai Alfi adalah dia menyebalkan. Karena di hari pertama sekolah dia membentakku, tapi saat aku klarifikasi langsung padanya dia merasa tidak membentakku bahkan dia lupa kejadian itu.

Dia sangat menyukai graffiti dan merupakan anak basket. Cukup pintar untuk ukuran rata-rata kelasku dan bertubuh gempal. Tapi dia memiliki sifat baik hati, perhatian, dan menyenangkan. Untuk menjadi seorang teman, dia merupakan paket komplit. Sayangnya, dia menginginkan lebih. Aku yang memang dari awal sudah terpaku pada Jason tidak bisa dengan mudah memberi ruang untuk yang lainnya.

Lagipula Alfi tidak pernah menembakku, dia hanya menyatakan perasaannya melalui SMS. Itu sebabnya dia tidak pernah kutolak karena dia hanya menyatakan bukan menanyakan.

Miris memang hanya karena hal ini pertemanan kami sampai detik ini berada di ujung tanduk. Bahkan dia sangat membenciku, apalagi dengan kedekatanku dengan Fahmi yang bisa dibilang lebih dari seorang teman padahal bukan itu yang sebenarnya.

Dia merasa ditusuk dari belakang, tapi ketahuilah bahwa ini bukan karena Fahmi. Ini karena hatiku yang memang sudah terukir nama Jason. Dia hanya terlambat mengetuk pintu hatiku. Ini hanya masalah waktu.

Apalagi yang aku tahu, Alfi sudah memiliki seorang kekasih di Jakarta yang notabene adalah saudaranya sendiri. Lalu untuk apa dia memendam rasa itu untukku? Apa itu hanya taktiknya untuk membuatku cemburu? Sayangnya tidak berhasil, malah membuatku kehilangan kepercayaan padanya. Dia merusak imagenya sendiri.

Kepingan masa laluku tak berhenti di sini karena masih banyak lagi kepingan masa lalu yang hendak kutulis. Stay tune, guys (:

(PS: Cerita ini bisa fiksi ataupun non-fiksi. Bisa diselidiki keaslian cerita dengan bertanya langsung pada para tokohnya. Terimakasih)