Minggu, 06 September 2015

Semoga Ada Jalan



Aku ingat saat sekolah dulu sering menulis cerita pendek, waktu di rumah masih ada komputer, kemudian setelah selesai menulis aku akan langsung menge-print-nya dan kubagikan di kelas. Aku ingat pula berbagai reaksi yang diberikan teman-temanku setelah membaca cerita pendekku. Mereka menyukainya, bahkan sering memuji karya abal-abalku. Aku rindu pujian itu. Aku rindu pujian mengenai tulisanku. Aku sudah lama tidak menulis cerita pendek lagi, aku terlalu terfokus pada puisi dan tulisan ilmiah lainnya yang sebenarnya aku tahu bahwa itu bukanlah bidang yang kuminati.

Walau begitu, aku tahu pula bahwa Papa dan kampusku menuntutku untuk bisa menulis ilmiah, selain terkait dengan tugas kuliah, tulisan ilmiah akan mampu membawaku menuju tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Aku tahu itu, namun masih terasa sulit bagiku untuk mampu menulis ilmiah. Aku merasa tersudutkan setiap dosen mengungkit PKM, aku tidak pernah bahkan sedetikpun berpikir mengenai PKM. Aku tidak tahu bagaimana memulai, bahkan membentuk kelompok saja aku bingung.

Beberapa hari yang lalu temanku bercerita mengenai temannya yang akan melanjutkan studi di Jepang, negeri sakura. Temannya adalah mahasiswi sastra jepang, pernah mengikuti study exchange ke Jepang, dan sekarang akan melanjutkan studi S2 ke negeri matahari terbit itu. Aku jadi teringat mengenai passionku 3 tahun yang lalu, passionku yang akhirnya redam tanpa pernah berkobar. Mimpi lamaku terkuak kembali saat mendengar cerita temanku. Aku ingat bahwa dulu aku sangat ingin mengambil sastra, entah sastra apapun itu. Aku suka bahasa, aku suka belajar bahasa. Mungkin darah Papa dan Mama menurun padaku, namun mereka keberatan jika aku mengikuti jejak mereka. Padahal apa salahnya jika aku mempunyai minat yang sama dengan mereka??? Mereka terlalu takut hidupku akan seperti mereka, mungkin. Padahal hidup mereka baik-baik saja bahkan dengan menggeluti bidang ini. Akhir dari seorang mahasiswi sastra tidak hanya menjadi seorang dosen, aku punya mimpi bisa menjadi seorang translator, tour guide, atau bahkan menjadi seorang dosenpun aku tidak keberatan sama sekali. Lucunya, mimpiku saat ini adalah menjadi seorang dosen. Toh pada akhirnya mimpiku menjadi seorang dosen.

Saat ini aku masih berandai-andai bagaimana hidupku jika aku benar mengambil sastra jepang 3 tahun yang lalu. Sastra Jepang UGM, itulah mimpiku. Maaf Pa, berkali-kali pun aku mengatakan bahwa aku baik-baik saja di sini, saat ini, tapi aku selalu menangis saat mengingat mimpiku 3 tahun lalu itu. Andai saja... Aku hanya bisa berkata “andai saja”.

Seberat itulah menjadi seorang ekonom bagiku. Angka adalah apa yang setiap hari harus aku hadapi. Kurva adalah makanan sehari-hariku. Asumsi adalah apa yang harus aku lakukan setiap hari. Tidak ada salahnya memang menjadi seorang mahasiswi ekonomi, tapi entah kenapa aku merasa aku menjadi seorang pecundang di sini. Pintar tidak, bodoh juga tidak. Aku hanya menjadi mayoritas di sini, aku tidak suka. Aku tidak menonjol sama sekali, entah menjadi baik atau bahkan buruk.

Tulisan ini mungkin adalah pelampiasanku atas apa yang akan aku hadapi. Aku adalah mahasiswi tingkat akhir saat ini, semester 7. Proposal, penelitian, dan skripsi adalah apa yang akan aku hadapi dan aku belum siap. Seperti topik yang telah kusinggung pada paragraf awal, aku tidak pandai menulis ilmiah, tapi aku tahu pasti bahwa Papa akan menyuruhku untuk lulus tepat waktu dan kalau bisa lebih cepat dari waktu yang seharusnya. Aku takut, karena aku juga menginginkan hal yang sama, namun aku tidak tahu bagaimana mencapai hal itu.