Rabu, 19 Maret 2014

Brotherhood

Capture: Mama

Mungkin sosok ini jarang kuceritakan, tapi sebenarnya dia adalah salah satu sosok yang mampu membuat hidupku lebih sempurna. Dika. Lengkapnya Andika Aulia. Adik yang hadir ke dunia setelah aku melalui fase bayi, batita, dan balitaku. Dia terlahir saat aku menginjak usia 6 tahun.

Adik yang saat dia masih kecil kuurus selepas pulang sekolah. Adik yang sering merepotkanku karena Papa enggan mengurusnya ketika Mama absen di rumah.
Tapi dia juga adalah Adik yang dengan setia menemaniku bermain setiap harinya. Adik yang dengan lucunya mampu membuatku tertawa, Adik yang dengan polosnya selalu kubuat menangis, dan masih banyak lagi.

Aku merasa berutang padanya karena semasa dia kecil dia sering kubuat menangis. Dengan tingkahku yang menyebalkan, aku sering mengganggunya hingga tak jarang pula Mama memarahi hingga menghukumku karena telah mengusik ketenangan di rumah.

Mungkin hal itu terjadi karena aku iri padanya. Dia adalah sosok yang ditunggu-tunggu kehadirannya di rumah sejak dulu hanya karena dia berjenis kelamin laki-laki. Ya, berhubung keluargaku bersuku Batak, otomatis kehadiran anak laki-laki sangat diharapkan. Ditambah lagi dia adalah anak terakhir. Lengkaplah sudah alasan mengapa dia sangat dimanja di rumah.

Aku mengulas tentangnya kali ini disebabkan oleh tulisan Papa di Facebook tadi pagi (tulisan Papa). Tanpa kusadari aku merasa bahwa sudah terlalu jauh jarak antara aku dan Dika sejak kepergianku ke Bogor dua tahun lalu. Aku semakin jarang berkomunikasi dengannya padahal aku hanya perlu mengetikkan beberapa tombol di layar handphoneku. Mungkin aku merasa gengsi. Entahlah.

Yang pasti aku sangat mengharapkannya tumbuh menjadi seorang pria tangguh yang tidak gentar dengan lingkungan sekitar. Karena dia adalah sosok yang akan menggantikan figur Papa di rumah. Dialah yang mengemban tugas untuk menjaga kami, para wanita. Ya, aku berharap dia tidak pernah salah langkah dalam hidupnya.

Satu pesanku untukmu Adikku, jadilah dirimu sendiri. Jangan mau dikekang oleh apa dan siapa pun. Raihlah semua yang kau inginkan dalam hidupmu. Jangan sampai menyesal, tapi jangan pula sampai melampaui batas. Tetap ingat agama dan keluarga. Tidak akan pernah ada tempatmu kembali selain kepada-Nya dan tidak akan pernah ada orang yang akan menerima semua kekuranganmu kecuali keluarga. Adikku, aku bangga padamu hingga detik ini. Kau pantas untuk kubanggakan karena sudah banyak yang kau raih dengan umurmu yang masih belia. Tidak sepertiku yang sangat terlambat membuat beliau bangga. At last, Ich liebe Dich, my brother :”)