Sabtu, 15 Maret 2014

Prisoner of You

Tertawan. Satu kata yang terinspirasi dari tulisannya Kak Azhar Nurun Ala di bukunya yang Ja(t)uh dan Tuhan Maha Romantis dan satu kata yang sedang menggantung manis di langit-langit kamarku malam ini.

Ya, satu kata yang tanpa sengaja meluncur manis dari bibirnya dan mampu menyesaki setiap tarikan napasku. Satu kata yang ikut terhirup masuk ke dalam paru-paruku dan mengisi setiap molekul-molekul darah di tubuhku. Satu kata yang saat ini tengah mengisi setiap inchi sel-sel tubuhku. Satu kata yang meresap masuk bahkan sampai ke atom-atom yang terdiri dari proton, neutron, dan elektron tubuhku.

Apa benar aku tertawan olehmu? Ah, entahlah. Jujur saat melihatmu aku tak merasakan apapun. Hanya rasa bahagia dan puas saat melihatmu dalam jarak dekat. Baik ketika kau sedang tersenyum atau bahkan termangu sekalipun.

Dan saat aku berbicara denganmu, aku grogi. Maka jangan heran kalau aku berusaha mempercepat obrolan kita atau bahkan mengelak. Aku tak sanggup harus menatap matamu. Cukup menatapmu dari jauh, aku sudah puas.

Tapi entah mengapa terkadang aku juga ingin mengobrol akrab denganmu melebihi saat kau mengobrol dengan dia. Maka tak heran terkadang tanpa kusadari aku menatapmu lekat saat kau sedang mengobrol dengan mereka. Aku memerhatikan caramu bicara, caramu tersenyum, caramu mengerjapkan mata, bahkan caramu bernapas. Aku tak pernah bosan memerhatikanmu. Tertawankah aku?

Ya, mungkin benar. Aku sedang tertawan olehmu. Olehmu yang bahkan tanpa kau sadari telah menawan hati seorang manusia lemah.