Kamis, 02 Mei 2013

Do I Love Writing?


            Aku bingung. Aku memang suka nulis, tapi bukan berarti aku bisa menulis kapan pun aku mau. Aku menulis tergantung mood. Ketika moodku sedang bagus maka ide cerita akan terus mengalir di kepalaku, tapi jika moodku sedang jelek maka untuk berpikir jernih saja rada susah.

Temanku banyak yang menginginkan kisah hidupnya aku tulis, tapi tidak semudah itu. Karena seperti yang aku bilang tadi, aku menulis tergantung mood dan ketika aku benar-benar sedang berada dimood yang baik maka aku tidak akan berhenti menulis sampai aku merasa puas dan passionku tersalurkan. Bukan aku tidak ingin mengabulkan permintaan mereka, tentu saja aku mau. Hanya saja tidak semudah itu, aku bukanlah penulis profesional seperti Primadona Angela, Orhizuka, atau Raditya Dika, dan lain-lain. Aku adalah seorang penulis pemula yang masih dalam tahapan pembelajaran.

            Genre tulisanku adalah real life. Menurutku, menulis based on true story itu feelnya lebih dapat dan ide cerita itu bakal ngalir terus karena kita sudah ada gambaran bagaimana kelanjutan kisahnya. Sering cerita hidupku sendiri yang kutulis, bukan bermaksud menjual kisah sendiri, tapi rasanya menyenangkan bisa berbagi pengalaman dengan orang banyak. Tidak heran mengapa aku suka mendengarkan curhatan dari kakak dan teman-teman. Cerita mereka bisa aku jadikan sebuah inspirasi dalam menulis. Hanya saja terkadang karena bukan aku sendiri yang mengalaminya, feel tokoh utama belum bisa aku kuasai dengan sempurna. Masih butuh banyak perombakan.

Tulisanku juga masih jauh dari kata bagus, tapi banyak yang bilang padaku bahwa semakin sering kita menulis maka insyaallah tulisan kita akan semakin baik. Sebenarnya bukan masalah teori yang belum kupahami, tetapi kosakataku yang masih kurang. Jadi, terkadang kata-kata yang kurangkai itu masih terlalu sederhana. Itulah alasanku mengapa aku membuat akun di Kompasiana dan membuat sebuah blog. Selain untuk menyalurkan hobi, aku juga masih terus belajar menulis. Aku menulis secara rutin agar kemampuanku terus terasah.

Sambil menyelam minum air, mungkin itu istilah yang tepat untukku. Selain aku dapat menyalurkan hobi dengan mempublish tulisanku, aku juga bisa merasakan euforia ketika tulisanku dibaca oleh orang lain. Bahkan terkadang aku mendapat komentar berupa pujian maupun kritikan. Jujur memang yang aku ingin dengar itu lebih kepada sebuah pujian, tapi aku tidak akan pernah mampu membuat karya yang lebih baik jika hanya mendengar pujian saja. Makanya aku sangat mendengarkan kritikan ataupun saran dari pembacaku, semua yang mereka ungkapkan sangat aku hargai. Bahkan aku sangat berterima kasih karena sudah mau repot-repot menganalisis rangkaian kata yang kulukis indah di secarik kertas (halaman Word).

Senang bercampur bangga jika tulisanku dibaca oleh orang lain. Mengapa orang lain aku garis bawahi? Karena aku tidak mengenal mereka. Jadi, jika tulisanku jelek aku tidak perlu merasa malu dan ketika orang yang kukenal yang membaca tulisanku maka tidak bisa dielakkan lagi, aku pasti merasa malu. Semenarik apapun tulisanku, tetap saja ada rasa yang mengganjal di pikiranku. Mentalku masih payah. Entah bagaimana mengubah cara berpikirku ini. Kalau begini terus bisa-bisa aku tidak akan pernah benar-benar menulis sebuah novel.