Jumat, 03 Mei 2013

He Tried to Cheat My Friend on May 3rd 2013


            Assalamualaikum.

            Seperti biasa, kehidupanku di asrama tidak mungkin bisa berlangsung damai walau hanya  untuk sehari. Buktinya, semalam ada kejadian mengejutkan lagi yang terjadi. Temanku dihubungi oleh orang yang tak dikenal yang mengaku sebagai Customer Service sebuah provider ternama di Indonesia. Awal kejadiannya aku tidak begitu tahu karena saat itu aku sedang terlelap. Detail kejadiannya akan aku ceritakan di paragraf selanjutnya.

            Saat aku sedang asyik-asyiknya bergulat dengan mimpiku, sayup-sayup kudengar suara Kiki dan Ika sedang mengobrol disertai suara ngebass dari speaker handphone. Suara lelaki. Aku bingung, apa yang sedang terjadi? Mengapa mereka berdua berisik sekali? Kubalikkan badanku ke kanan hingga menghadap ke arah mereka berdua. Aku dihinggapi rasa penasaran, ada apa ini?

            Perlahan kubuka mataku dan kutajamkan pendengaranku. Tak mau ketinggalan satu kata pun yang mereka ucapkan. Semakin kudengar obrolan mereka, semakin pahamlah aku apa yang sedang terjadi.

            Lelaki itu bertanya pada temanku apakah temanku mau menerima doorprize sebesar 15 juta dari provider tempat dia bekerja. Kalau mau katakan “mau” dan kalau tidak katakan “tidak”. Dari awal mendengar pembicaraan mereka, aku sudah tertawa. Masih saja ada penipuan seperti ini. Entah mengapa feelingku langsung berkata bahwa ini semua adalah penipuan. Mungkin karena aku orangnya terlalu curigaan atau entah terlalu waspada.

            Sayangnya temanku terlalu polos, dia masih saja mau meladeni obrolan tidak penting itu. Bahkan sedikit terlihat bahwa dia tergoda, andai saja aku tidak bangun, entah apa yang akan terjadi. Untung saja temanku tidak langsung memberikan nomor rekeningnya. Jika dia sudah memberikannya, hanya akan tersisa penyesalan yang mendalam. Aku bukan sok menjadi pahlawan atau apa, tapi aku sedikit banyak membantu mereka berdua menganalisis setiap pernyataan dan jawaban yang dilontarkan oleh oknum penipu itu.

            Aku bertanya pada orang itu, “Atas dasar apa temanku mendapat doorprize?”

            Dia menjawab, “Tidak atas dasar apa-apa. Hanya karena saudari Kiki memiliki nomor ******** (suatu provider ternama).”

            Refleks aku mencibir. Dia gila atau apa, 15 juta itu duit dan dia hanya memberikannya secara percuma. Jawaban yang dia berikan padaku tak lantas membuatku puas.

Tiba-tiba, Ika melontarkan pertanyaan padanya, “Boleh tidak kalau Kiki bertanya dulu pada orang tuanya?” Aku bingung, apa Ika juga mulai tergoda?

Akan tetapi, jawaban yang lelaki itu lontarkan semakin menguatkan kecurigaanku padanya. Dia menjawab, “Tidak bisa. Harus sekarang dijawab. Mau atau tidak? Tinggal jawab itu saja.” Terkesan memaksa bukan?

Aku tekankan kepada Kiki dan Ika bahwa itu adalah penipuan. Karena jika memang dia berniat memberikan doorpize harusnya dia tidak memaksa begitu. Dia tidak memberikan kita ruang untuk mencari kebenaran. Awalnya, Ika hendak menelfon langsung CS resmi dari provider tersebut, karena si penipu ini menelfon menggunakan nomor biasa, tapi oknum tersebut tidak memberikan izin. Dia terus memaksa Kiki untuk menjawab, iya atau tidak.

Jujur aku kesal dengan Kiki. Apa susahnya bilang tidak? Yang ada dia hanya terdiam dan mengunci rapat bibirnya. Hingga akhirnya, Ikalah yang meladeni setiap pernyataan yang lelaki ini ucapkan.

Sampai akhirnya perseteruan mereka sudah mencapai klimaks dan lelaki ini mulai tidak sabar, si Kiki tanpa berdosa mematikan sambungan telefon. Aku terdiam. Mengapa dimatikan? Begitu pikirku. Apa susahnya bilang TIDAK? Aku kesal sendiri. Jujur, bukan aku membela si penipu, tapi justru semakin memperparah keadaan jika sambungan telefonnya dimatikan begitu saja.

Benar saja, tak lama kemudian si lelaki ini kembali menelfon temanku sambil mencak-mencak. Dia menyebutkan semua kata-kata kasar, telingaku panas mendengarnya.

Kubalas dia, “Setahu saya, seorang customer service tidak mungkin berkata kasar. Apalagi CS sebuah provider ternama!”

Mungkin dia sudah sangat kesal menghadapi temanku yang sangat bertele-tele atau karena temanku tidak termakan oleh tipuan murahannya, dia kembali menyebutkan kata-kata kasar. Sungguh, sebagai seorang perempuan aku sangat terhina sekali. Rasanya ingin kutampar mulut lelaki itu atau paling tidak membalas semua kata-kata kasarnya, kalau tidak mengingat aku memiliki agama. Kutahan dan kuredam amarahku, kulesakkan seluruh emosiku ke dalam pikiranku yang masih mampu berfikir realistis, dan kutelan bulat-bulat semua kata kasar yang tengah berada di ujung lidahku. Hingga akhirnya sambungan telfon itu pun mati dan tak pernah berbunyi lagi.

Ruangan kamar kami lantas hening. Aku masih diliputi amarah. Apa aku terlalu ikut campur dalam masalah temanku? Andai saja aku tidak ikut campur, tidak mungkin aku kena imbas makian lelaki sialan itu. Akan tetapi, jika aku diam saja, apa aku pantas disebut teman? Dilema.

Ah, sudahlah. Toh semua sudah terjadi juga. Waktu tidak akan bisa diputar. Lagian, wajar saja lelaki itu marah. Selain karena dia gagal menipu dan merasa tidak dihargai dengan telfonnya yang diputus secara tiba-tiba dan sepihak, pulsanya juga mungkin sudah habis untuk menghubungi temanku dari tadi.

Kejadian ini dijadikan pelajaran saja.