Selasa, 28 Mei 2013

Surat Cinta Untuk Mereka


            Tepat hari ini, 27 Mei 2013, Mama resmi menyandang title M.Si di belakang namanya. Sebuah pencapaian luar biasa karena memakan waktu yang cukup lama. Akhirnya, beliau terbebas juga dari tekanan yang diberikan oleh teman-temannya yang terus-terusan bertanya, “Kapan lulus?” saat mereka bertemu.

            Kami sekeluarga sudah menantikan moment ini sejak lama. Karena dengan selesainya perjuangan beliau dalam menempuh kuliah S2, maka itu adalah awal beliau akan mulai fokus kembali pada keluarga. Selain bekerja sebagai dosen, beliau juga merupakan ibu rumah tangga yang sangat gigih dan tekun. Melakukan hampir semua tugas rumah tangga sendiri. Mulai dari mencuci, menggosok, memasak, menyapu, mengepel, menyiram tanaman, membuang sampah, membeli bahan-bahan masakan, bahkan tak jarang beliau juga menjemput kakak dan adikku pulang kuliah dan sekolah. Tak akan pernah dapat kutemukan lagi seorang ibu seperti beliau. Aku saja belum tentu bisa seperti itu kelak ketika sudah menjadi seorang ibu.

            Akan tetapi, title itu tak akan dapat diraih beliau tanpa bantuan dari papa. Ya, papa juga memegang peran yang penting dalam kelulusan mama. Untuk semangat dan kepercayaan yang papa berikan untuk mama, tak jarang menjadi suntikan semangat beliau dalam menyelesaikan pendidikan S2nya. Selain itu, bantuan dalam bentuk lain yang tentu saja merupakan pengorbanan besar bagi papa yang juga seorang dosen. Karena hal itu hampir menyita seluruh waktu papa. Atas dasar cinta papa dengan suka rela terus menemani dan berada di samping mama ketika tesis itu digarap.

            Pengorbanan kakak dan adikku juga tak bisa dianggap remeh. Mereka dengan sabar menemani mama ketika mama harus bertemu dosen pembimbingnya untuk mendiskusikan sesuatu. Bahkan terkadang memakan waktu berjam-jam. Mereka dengan sabar menunggu di dalam mobil karena tak mungkin ikut masuk ke dalam. Berpanas-panasan dan terkadang masih dalam keadaan lapar dan capai.

Semua itu dijalani dengan ikhlas karena begitulah yang namanya “keluarga”. Saling mendukung satu sama lain dan saling percaya. Itulah keluargaku. Keluarga yang aku kasihi dan sayangi. Tak akan pernah ada lagi keluarga seperti mereka.

Teruntuk papa, Dr. Drs. Mulyadi, M.Hum. Terima kasih Pa atas segala pengorbanan yang telah engkau berikan untukku. Terima kasih atas butiran-butiran keringat dan tenaga yang telah engkau kerahkan saat bekerja untuk membayar uang kuliah dan segala keperluanku di sini. Aku sadar telah banyak menghabiskan banyak biaya dan aku belum bisa memberikan kebanggaan padamu. Maafkan anakmu ini yang masih saja suka bertingkah layaknya anak kecil. Susah dinasihati, malas belajar, banyak menuntut, dan lain-lain. Aku akan berusaha untuk membalas segala jasa-jasamu, Pa. Love you. Big Hug from Bogor.

Teruntuk mama, Dra. Rumnasari K. Siregar, M.Si. Terima kasih Ma atas taruhan nyawa yang telah engkau lakukan untuk melahirkanku ke dunia ini. Terima kasih karena engkau telah dengan sabar membesarkanku sampai sekarang. Terima kasih karena engkau selalu dengan sabar mendengarkan cerita-cerita konyolku, menghadapi tingkah-tingkah kasarku, memaklumi segala kesalahan yang kuperbuat, dan lain-lain. Maafkan anakmu yang suka memberontak ini, Ma. Maaf karena aku telah memberi beban pada tubuh kecilmu saat mengandungku selama 9 bulan. Maaf karena aku telah merepotkan dan menyusahkanmu saat engkau hendak melahirkanku. Maaf karena aku sering menangis hingga membangunkanmu tengah malam saat aku merasa haus atau merasa tidak nyaman. Maaf karena aku sering berucap kasar dan bertingkah tidak sopan baik sengaja maupun tidak sengaja hingga menyakiti hati lembutmu. Maaf jika sampai saat ini aku belum bisa membahagiakanmu, Ma. Belum bisa memberikan kebanggaan apapun padamu. Maafkan aku, anakmu yang sering engkau ejek gendut. Love you. Big Kiss from Bogor.

Teruntuk kakakku, Liliyana Sari S. Kau tahu, aku sangat merindukanmu, Kakakku. Kakak yang selalu setia menemaniku saat suka maupun duka. Kakak yang dengan lapang dada memaafkan kenakalanku sewaktu kecil, walau aku telah menggores pipi mulusnya hingga berbekas. Kakak yang selalu menjadi pendongengku ketika hendak tidur. Terlalu banyak cerita yang engkau paparkan untukku, Kak. Aku menganggapnya sebagai cerita pengantar tidur (hehe..), tapi aku tetap merasa senang atas segala ceritamu karena itu pertanda engkau telah mempercayaiku. Tanpa kau sadari, kau adalah panutanku dalam hidup ini. Apa yang telah engkau capai dan raih, itu pulalah yang ingin aku capai dan raih. Entah kenapa aku selalu menginginkan apa yang engkau miliki. Terakhir, aku ucapkan terima kasih dan maaf. Terima kasih karena terlahir menjadi kakakku dan maaf karena aku belum bisa menjadi adik yang baik. Love you. Big Miss from Bogor.

Teruntuk adikku, Andika Aulia S. Maafin kakak ya, Dek. Kak Mala belum bisa menjadi kakak yang baik untukmu. Sejak dulu hingga sekarang. Mungkin Dika pernah merasa menyesal telah menjadi adik Kak Mala. Entah berapa kali Kak Mala buat Dika menangis sewaktu Dika kecil dulu. Entah berapa luka yang telah Kak Mala gores baik di kulit maupun hati Dika. Akan tetapi, jauh di lubuk hati Kak Mala, Dika adalah adik Kak Mala satu-satunya dan akan terus menjadi yang satu-satunya yang Kak Mala sayangi. Banyak kisah yang telah kita lalui berdua. Mulai dari bermain PS, berbagi komik, berebut makanan, berargumen, berantem secara fisik atau psikis, dan lain-lain. Terima kasih karena masih menganggap Kak Mala sebagai Kakaknya Dika. Love you. Big Sorry from Bogor.

Nurmala Fitri S.