Jumat, 24 Mei 2013

My Little Journey


            Untuk pertama kalinya aku diizinkan kedua orang tuaku untuk ikut acara yang mengharuskanku menginap. Makrab. Ya, aku diperbolehkan ikut makrab kelas beberapa waktu yang lalu. Padahal sebelumnya aku tak pernah diizinkan untuk ikut acara sejenis itu. Bahkan aku tak mendapat izin untuk ikut perpisahan sekolah SMP dan SMA dan perpisahan kelas SMA. Terlalu banyak hal yang kulewatkan sewaktu bersekolah dulu.

            Ikut organisasi saja aku tak dibolehkan, alasannya takut menganggu pelajaran sekolah. Selain itu memang jadwal lesku selalu gila-gilaan. Mulai dari masih berseragam merah-putih, hampir tidak ada hari aku bisa bersantai dan bermain. Bimbel, les bahasa Inggris, dan ngaji. Semua kulalui hingga aku berseragam putih-biru.

            Selepas SD, aku masih mengikuti bimbel dan les bahasa Inggris. Aku mendapat sedikit keringanan waktu SMP. Setidaknya aku masih bisa ikut ekskul voli, main basket sepulang sekolah, berperan sebagai kapten dan bek tim sepak bola putri kelas, bahkan menjadi salah satu anggota mading OSIS. Hari-hari kulalui dengan segala kesibukan. Masih belum bisa menikmati waktu luang, tapi kali ini tak mengapa karena aku melakukan hal-hal yang aku sukai.

            Hingga kuinjakkan kakiku di SMA Negeri 2 Medan. Saat berseragam putih abu-abu, aku pasif. Tak menjadi apa-apa, hanya sebagai siswi SMA biasa. Waktu tiga tahun pun terlewati tanpa terasa, waktu-waktu dalam pencarian jati diri.

            Tibalah saatnya aku melepas seragam karena aku resmi menjadi seorang mahasiswi di Institut Pertanian Bogor. Awalnya berat meninggalkan kota Medan yang telah membesarkanku selama 18 tahun lamanya. Pertama kali menginjakkan kaki di Bogor, semua terasa asing. Lingkungan, cuaca, serta orang-orangnya. Hingga akhirnya, aku mampu beradaptasi di kota hujan ini.

            Hari-hari kulalui menjadi seorang mahasiswi. Melewati masa matrikulasi selama sebulan penuh dan mengharuskanku berpuasa tanpa keluarga untuk pertama kalinya. Makan nasi dingin saat sahur dan antri beli makan saat buka puasa. Moment yang tak akan pernah kurasakan jika aku tak pergi merantau.

            Waktu semester satu, aku pernah mendaftar jadi anggota BEM TPB. Saat kedua orang tuaku tahu mereka sedikit menentangnya. Walau akhirnya mengizinkan, tapi toh ternyata aku gagal di sesi interview. Melupakan sedikit rasa sakit karena gagal untuk mengembangkan soft skillku, saat ini di semester dua, aku kembali mendaftar sebagai panitia Jurnalistik Fair 2013. Aku berusaha maksimal saat sesi interview. Kedua orang tuaku belum kuberi tahu perihal ini, sesaat setelah aku selesai melakukan interview barulah mereka kuberi tahu. Tanpa kuduga ternyata mereka mendukungku, mungkin karena berbau jurnalistik. Kedua orang tuaku seorang dosen sastra, tak heran kalau mereka memberi lampu hijau padaku. Bahkan mereka mendoakanku semoga diterima. Tak pelak lagi aku lulus jadi panitia. Doa orang tua benar-benar makbul. Aku senang karena akhirnya kedua orang tuaku mempercayaiku bahwa aku mampu memanage waktu dan menjaga diri. Buktinya mereka mengizinkanku ikut makrab dan ikut kepanitiaan.

            Semoga kepercayaan mereka bisa kupertanggungjawabkan nantinya dan semoga aku bisa terus mengembangkan soft skillku karena itu adalah modal penting saat bekerja kelak.