Jumat, 24 Mei 2013

Surprise Party for Eriyanti Pratiwi


            Tepat dua hari yang lalu, temanku, Eri, berulang tahun yang ke-19 tahun. Beberapa hari sebelumnya, aku dan Bunga sudah merencanakan sesuatu untuk mengerjainya. Niat awal sih mau ngerjain dia habis-habisan dengan telur, tepung, kopi, dan air. Sayangnya niat jahat kami tak bisa terlaksana disebabkan oleh adanya perubahan lokasi kerja kelompok yang sudah kami berdua atur. Ya, awalnya kami berniat mau mengerjainya di A5, asrama Eri sendiri, tapi ternyata Eri malah meminta untuk kerja kelompok di LSI. Memang niat terselubung kami ini ditutupi oleh ide “kerja kelompok”, agar dia tidak terlalu curiga saat kami ajak main.

            Karena lokasi LSI cukup jauh, aku jadi malas untuk ke sana. Akhirnya kuputuskan untuk kerja kelompok di kamarku saja. Toh, di A3 masih bisa untuk mengerjainya. Bunga memberi ide untuk menyiramnya saja dengan air. Akan tetapi, masalahnya Eri tidak bawa baju ganti. Berhubung lokasi aksi kami di dekat kamarku, akhirnya kuputuskan untuk meminjamkan Eri bajuku asalkan ide kami ini tetap terlaksana.

            Tibalah waktunya setelah acara tiup lilin yang lilinnya susah banget untuk mati dan makan kue, Bunga pun pamit pulang. Dia pamit karena hendak pergi dengan teman prianya. Aku tanya Bunga dengan tidak mengeluarkan suara sama sekali saat Eri sedang tidak memerhatikan kami berdua, “Ngerjainnya jadi gak?” kutanya dia sambil melirik ke arah Eri.

            Bunga mengangguk dan langsung berkata, “Anterin aku yok sampai depan tangga.” Kebetulan kamarku memang berada di lantai dua dan untungnya harus melewati deretan kamar mandi baik di sisi kiri maupun kanan saat mau keluar asrama. Tanpa rasa curiga Eri dan Suci mengikuti Bunga keluar. Aku berada paling belakang karena harus menutup jendela dan pintu kamarku. Harus tetap waspada di situasi atau kondisi apapun.

            Akhirnya, sampailah kami di depan kamar mandi. Bunga berhenti dan langsung menarik Eri ke sisi kiri. Aku yang mengikuti dari belakang langsung merebut handphone yang sedang digenggamnya. Suci terdiam memerhatikan kami. Aku mengalami sedikit kesulitan saat merebut handphone Eri karena dia menggenggamnya dengan sangat erat. Berharap kami membatalkan niat jahat kami jika dia tetap menggenggam handphonenya. Sayangnya, aku berhasil merebut handphone tersebut dan Bunga juga berhasil memerciki Eri dengan air dari gayung.

            Eri sudah cukup basah saat dia berhasil kabur dari cengkeramanku. Aku langsung berlari mengejarnya, begitu juga dengan Bunga. Hanya Suci yang tak bergerak dari posisinya semula, tak tega mungkin. Aku dan Bunga berderap mengejar Eri yang hendak masuk ke kamarku. Kami menggeretnya dan kali ini Bunga tak lagi memercikinya, melainkan menyiramkan seluruh isi gayung ke arah Eri.

            Sialnya, Eri berlindung di belakangku. Jadilah aku ikut basah. Entah berapa gayung yang Bunga siramkan ke arah Eri, yang pasti Eri terus berlindung dan berusaha memelukku. Dasar Bunga, ketika dia melihat Eri sudah basah kuyup, dia kabur begitu saja. Meninggalkan Eri yang masih berusaha memelukku agar aku ikut basah.

            Setelah puas tertawa bersama Suci, aku masuk ke kamar dan mengambilkan baju ganti untuk Eri. Setelah menemukan baju yang cocok untuknya, aku kembali ke kamar mandi dan menemukan dia sedang memeras jilbabnya. Bahkan jilbabnya saja bisa diperas ckck (berdecak).

            Entah siapa lagi korban selanjutnya.