Kamis, 25 April 2013

Arti dari Seorang Teman


Sebenarnya aku seorang anak yang easy going, mudah bergaul dengan siapa saja. Tapi, di lain waktu aku bisa berubah menjadi anak yang sangat pendiam dan tertutup. Jika sedang berada di hadapan orang yang baru dikenal, secara refleks mulutku terkunci rapat dan pandanganku langsung jatuh ke lantai. Aku juga tidak menginginkan hal itu tentu saja, tapi apa mau dikata.
Seorang teman sekolahku pernah berkata, “Kau akan pergi merantau beberapa bulan lagi, jadi kau harus merubah sifat dan sikapmu itu, kau tahu?” Aku hanya menatapnya bingung. Seolah tidak ingin membalas perkataannya tersebut.

“Ya, dengarkan aku dulu. Aku hanya tidak ingin kau tidak punya teman di sana. Aku peduli padamu, walau kau selalu mengacuhkan kehadiranku,” dia kembali berujar. Kulihat wajahnya, terlihat raut wajah khawatir dan sedih di sana.

“Baiklah, apa yang ingin kau katakan?” aku tidak tahan melihat ekspresi sedih di wajahnya.

“Kau tahu sifat jelekmu itu apa?” Karena aku hanya menggeleng pelan, dia kembali melanjutkan perkataannya, “Kau itu tipe orang yang tidak suka menyesuaikan diri, tetapi orang lainlah yang kau paksa untuk menyesuaikan diri denganmu. Kau tahu itu?”

“Ah, sudahlah. Hentikan perkataan omong kosongmu itu. Aku tidak mau mendengarnya lagi. Kau pergilah. Ini bukan bangkumu!” aku berkata dengan ketus padanya. Ya, aku bersikap seperti ini hanya kepada orang-orang tertentu saja, termasuk kepada pria menyebalkan yang sedang duduk di sebelahku saat ini. Dia adalah pria yang suka tebar pesona kepada setiap gadis di seluruh penjuru sekolah. Tapi, entah kenapa perkataannya barusan begitu mengena di hatiku. Aku merasa tersindir, apa memang begitu sifatku? Kalau memang begitu sifatku, maka tak heran aku hanya memiliki beberapa teman saja selama bersekolah 3 tahun di sekolah ini.

Edu, si pria menyebalkan, hanya menghela napas pelan lalu bangkit berdiri.

“Aku telah memberitahumu yang sebenarnya. Semoga kau berubah di sana, dan maaf jika aku telah menyinggung perasaanmu. Aku hanya peduli padamu karena kau temanku.”

Aku membuang muka, dan tetap mengacuhkan perkataannya. Ya, memang benar, aku agak sedikit tersinggung dengan perkataannya barusan. Tapi, juga merasa bersyukur ada orang yang begitu peduli dan mau bersikap terbuka padaku. Itulah arti dari teman yang sebenarnya. Jujur, terbuka, dan peduli. Saat ini, aku merindukannya.