Rabu, 24 April 2013

Untuk Temanku, 392


Hari ini aku genap menginjak usia 19 tahun. Aku tidak mengharapkan apa pun karena aku tidak ingin membebani siapa pun. Hanya doa yang kuminta dari setiap orang yang mengenalku bahkan orang yang tidak kukenal. Doa yang berisi kata-kata indah, seperti Semoga panjang umur, Murah rezeki, Cepat lulus kuliah, dan lain-lain. Layaknya doa ulang tahun seperti biasa.

Di sini aku ingin bercerita, beberapa minggu yang lalu, aku dan temanku sedang tidak dalam kondisi yang baik, alias kami lagi tidak enakan satu sama lain. Aku tidak mengharapkan apa pun darinya bahkan ucapan selamat pun tidak, berhubung kami sedang berantem. Akan tetapi, alangkah terkejutnya aku ketika subuh tadi, dia dan teman sekamarku yang lain membangunkanku sambil menyanyikan lagu “Happy Birthday To You”. Dia yang memegang kue dan temanku yang lain memegang kado bergambar Hello Kitty. Aku terdiam sejenak, selain karena pusing baru bangun, rasa kaget, dan rasa haru bercampur menjadi satu di diriku.

Aku malu pada diriku sendiri, kenapa selama ini aku terlalu gengsi untuk mengajaknya berbaikan duluan hanya karena aku merasa dirikulah yang BENAR. Aku tidak pernah mencoba untuk melihat masalah ini dari sisinya, dari sudut pandang lain. Aku terlalu egois karena hanya memikirkan harga diriku saja.

Jujur saat aku bangun pagi tadi, rasanya seperti sedang bermimpi. Dia yang telah pergi selama beberapa minggu sejak “insiden” itu kembali lagi ke kamar ini sambil menyanyikan lagu ucapan selamat untukku. Hanya untukku.

Teman, maafkan aku. Maaf karena selama ini aku hanya memikirkan diriku saja. Maaf karena aku tidak pernah mencoba mengerti perasaanmu. Maaf karena aku belum bisa menjadi teman yang baik untukmu, untuk kita.

Kata-kata indahmu di kado itu telah menyadarkanku. Kau menuliskan “Happy Birthday. Sukses selalu. Semoga tambah umur dan tambah dewasa. Hidup itu BUKAN tentang KAMU..tapi tentang KITA”.

Teman, terima kasih karena engkau telah memberikan pengharapanmu untukku. Terima kasih karena engkau telah mau mendoakanku yang telah bersikap tidak baik selama ini.
Dan, TERIMA KASIH karena engkau TETAP menjadi TEMANKU sampai detik ini. Aku bersyukur telah bertemu dengan orang sepertimu. Aku bersyukur telah mengenal orang sepertimu. Aku bersyukur pernah menjadi bagian dari hidupmu. Entah sampai kapan persahabatan ini akan kita pegang teguh? Aku tidak tahu. Entah sampai kapan engkau akan sabar menghadapiku? Aku juga tidak tahu. Yang jelas, aku minta maaf untuk kebodohanku selama ini. Untuk ketidakpedulianku padamu. Untuk kesalahanku telah menyia-nyiakan waktu kita bersama selama di asrama. Untuk keegoisanku hingga membuatmu keluar dari sini walau kutahu engkau juga sudah tidak tahan berada di sini, tapi aku tetap merasa bertanggung jawab atas itu.

Teman, semoga di masa yang akan datang kita tetap bersama. Semoga kita bisa berdiri di podium yang sama 3 tahun lagi dan memakai toga yang sama pula, lalu kita akan saling memberi selamat satu sama lain.

Ucapan terima kasihku yang kulontarkan pada kalian beberapa saat lalu, mungkin belum bisa menginterpretasikan rasa bahagia yang kurasakan. Hingga tercetus di benakku untuk menulis sesuatu yang bisa mewakili perasaanku yang sebenarnya. Teman, aku berharap kalian mau menyempatkan waktu untuk membaca tulisan ini karena aku telah menuangkan semua perasaanku di sini. Maaf jika agak berlebihan, tapi aku tidak punya pilihan lain selain menulis seperti iniJ
Bogor, 27 maret 2013
Nurmala Fitri S.
Teruntuk temanku:
Gedung A3/Lorong 9/Kamar 392
Ike Marta Fransiska
Ika Pertiwi
Rizqy Murdiana Nst.